Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Bule di Bali Berulah Lagi, Ngeyel Bangun Vila di Pantai yang Abrasi Parah, Kini Disegel Satpol PP

Editor: Kurnia Yustiana
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas Satpol PP Jembrana saat memasang tanda pemberhentian sementara pembangunan vila bodong di pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Selasa (19/9/2023).

TRIBUNTRAVEL.COM - Warga negara asing (WNA) di Bali kembali berulah.

Kali ini, seorang bule ngotot membangun vila pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali.

Sebuah vila berdiri di tepi Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana, Kamis (14/9/2023). Otoritas Jembrana menyatakan vila tersebut bodong. (TribunBali.com/Istimewa)

Padahal kawasan tersebut merupakan tanah negara.

Belum lagi, kawasan tempat didirikannya vila itu adalah lokasi garis pantai yang akan dibangun revetment atau pengaman abrasi pada tahun 2024.

Baca juga: Bule Amerika Ngamuk di Bandara Ngurah Rai Bali, Sempat Pamer Bagian Intimnya

Pesisir Pebuahan memang mengalami abrasi parah. Jarak bibir pantai dengan rumah warga bahkan tinggal beberapa jengkal saja.

Saat warga waswas dengan ancaman abrasi, malahan ada yang nekat membangun vila, seakan tak peduli dengan gempuran ombak besar.

Bule yang tak disebutkan namanya itu diketahui sering datang ke Pantai Pebuahan.

Kabarnya, ia berencana mengembangkan wisata di Pantai Pebuahan.

Awalnya mau membuat akomodasi wisata speedboat, tapi belakangan berubah jadi pembangunan vila.

Perbekel Desa Banyubiru, Komang Yuhartono mengatakan, proyek vila tersebut sudah digarap sejak tujuh bulan lalu. Kata dia, vila itu dibangun oleh seorang bule.

Menurut pantauan, bangunan yang berdiri di pesisir Pantai Pebuahan itu hampir rampung.

Selain bangunan, juga terdapat kolam renang sebagaimana akomodasi pariwisata di tempat lain.

Yuhartono mengaku sudah memberi peringatan, tapi bule itu tak mau tahu.

Kata dia, bule itu bergeming dengan proyeknya dan tetap membangun vila.

"Sudah kami peringatkan bakal terkena pembangunan senderan pantai (revetment) dengan perwakilan di sana. Tapi tetap saja dilanjutkan," ungkap Yuhartono.

Halaman
1234