Dugaan sementara, mamalia laut tersebut diserang oleh predator seperti hiu atau hewan lainnya.
"Penyebab pastinya belum diketahui. Kita masih nunggu tim dokter hewan yang mau periksa," ungkap Andri.
Dia melanjutkan, setelah proses pemeriksaan oleh tim dokter hewan selesai, rencananya lumba-lumba sepanjang 2 meter ini bakal dikubur di sekitar lokasi terdampar.
Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Permana Yudiarso mengakui pihaknya telah menerima laporan dan analisis awal terdampar lumba-lumba yang ditemukan terdampar dalam kondisi mati.
Baca juga: Pembantaian 100 Lumba-lumba di Pulau Faroe Picu Kemarahan, Ubah Air Laut Jadi Merah Darah
Dari analisis awal, ditemukan luka pada beberapa bagian tubuh.
Luka tersebut karena diserang oleh predator yakni hiu. Sebab, gigitan tersebut merupakan bekas gigitan hiu.
"Beberapa bagian tubuh terdapat luka seperti dimakan ikan hiu. Tapi, untuk penyebab kematiannya kami masih belum bisa konfirmasi. Masih menunggu pemeriksaan oleh tim dokter," tandasnya.
Tim dokter hewan dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI) melakukan nekropsi terhadap tubuh lumba-lumba tersebut.
Nekropsi dengan mengambil sejumlah sampel tubuh dan organ dalam untuk selanjutnya dilakukan uji lab.
Tujuannya agar mengetahui penyebab pasti kematian mamalia laut ini.
Sementara, untuk luka pada lumba-lumba diindikasikan karena serangan predator laut, yakni hiu.
"Pemeriksaan dan nekropsi terhadap lumba-lumba dengan mengambil sejumlah sampel bagian tubuhnya," kata Kepala Resort KSDA Gilimanuk, Beni Supeno.
Baca juga: Viral Turis Wanita Nekat Tunggangi Lumba-lumba yang Terdampar, Aksinya Tuai Kecaman
Dia melanjutkan, dari hasil pemeriksaan sementara, lumba-lumba jenis hidung botol ini memiliki panjang 2,62 meter.
Kemudian ditemukan beberapa luka pada tubuh mamalia laut yang dikenal bersahabat dengan manusia tersebut.
"Hasil uji lab terhadap sampel dari proses nekropsi akan menentukan penyebab pasti kematiannya," ujarnya.
Baca tanpa iklan