Pada masa kolonial Belanda, Masjid Raya Baiturrahman terbilang memiliki lokasi yang cukup strategis.
Hal itu kemudian membuat Belanda kembali membakar sebagian area Masjid Raya Baiturrahman pada 10 April 1873.
Kejadian ini membuat sebagian besar masyarakat Aceh naik pitam.
Maka untuk meluluhkannya, Gubernur Jenderal Van Lansberge dari kolonial Belanda menyatakan akan membangun kembali masjid agung yang baru.
Pernyataan tersebut lantas diwujudkan dengan melakukan peletakan batu pertama oleh Tengku Qadhi Malikul Adil pada 9 Oktober 1897.
Sewa mobil murah di Banda Aceh, klikĀ di sini.
Setelah memakan waktu yang cukup panjang, Masjid Raya Baiturrahman akhirnya selesai dan diresmikan pada hari yang sama yakni 27 Desmber 1881.
Meski sudah kokoh berdiri lagi, pada masa itu banyak masyarakat yang enggan mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman karena dibangun oleh kolonial Belanda.
Baca juga: 3 Maskapai Tawarkan Tiket Pesawat Banda Aceh-Jakarta, Simak Tarif dan Jadwal Keberangkatannya
Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menerima hingga kini menjadi ikon tersendiri bagi masyarakat Banda Aceh.
Dikutip dari laman resmi Kemneterian Keuangan (Kemenkeu) RI, Sabtu (18/3/2023) Masjid Raya Baiturrahman kian diperluas dari tahun ke tahun.
Secara betahap fasilitas dan bangunan Masjid Raya Baiturrahman mulai ditambah baik di area luar maupun dalam masjid.
Dulu yang awalnya hanya memiliki satu kubah dan satu menara, kini memiliki tujuh kubah dan delapan menara, dan satu menara induk.
Kemudian luas ruangan dalam masjid menjadi seluas 4.760 meter persegi dengan lantai terbuat dari marmer.
Kemegahan bangunan Masjid Raya Baiturrahman ini menjadi saksi bisu dahsyatnya peristiwa tsunami aceh pada 2004 silam.
Di mana pada masa itu Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh di saat bangunan di sekitarnya hancur luluh lantak disapu ombak tsunami.
Baca tanpa iklan