Bibir bawah akan dipotong oleh anggota perempuan dari keluarga atau sukunya, biasanya ibu.
Tingkat peregangan tergantung pada gadis itu, selama bertahun-tahun, dia dapat memutuskan untuk terus mengembangkannya.
Dengan demikian, pelat yang lebih besar terus dipasang sampai bibir dapat memuat cakram mencapai ukuran 12 cm.
Sebuah keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat mengungkap bahwa praktik tersebut dimulai agar wanita suku terlihat jelek di mata orang asing.
Banyak pula yang percaya bahwa pemakaian pelat bibir melambangkan transisi seorang gadis muda menuju kedewasaan.
Sementara yang lain percaya bahwa memakai pelat bibir adalah tanda harga diri seorang wanita.
Semakin lebar pelat bibir, semakin banyak pula mahar yang diterima keluarga.
Saat ini, hanya suku tertentu di Etiopia yang masih mempraktikkan tradisi penggunaan pelat bibir.
Mereka dikenal sebagai suku Mursi.
Tentunya, sungguh mengejutkan melihat bahwa di tengah peradaban dan globalisasi, suku Mursi memutuskan untuk meneruskan tradisinya.
Hal ini membuat suku Mursi menjadi objek wisata yang ikonik, karena fotografer di seluruh dunia pergi ke Ethiopia untuk mengabadikan keindahan tradisi mereka.
Baca juga: Mengenal Telok Abang, Tradisi Rebus Telur Merah di Palembang untuk Perayaan 17 Agustus
(TribunTravel.com/mym)
Untuk membaca artikel terkait berita viral, kunjungi laman ini.
Baca tanpa iklan