Uniknya, masyarakat masih terus mempertahankan arsitektur masjid, berupa perpaduan bentuk gereja dan masjid.
Perpaduan ini terlihat sebagai perwujudan kuatnya toleransi antar agama di Kabupaten Fakfak.
Baca juga: Andalkan Wisata Sejarah dan Budaya, Desa Wisata Negeri Hila di Maluku Sukses Masuk 50 Besar ADWI
“Melihat beragam potensi tersebut, kami hadir di sini dan akan melakukan pelatihan dan pendampingan," ucap Sandiaga Uno.
"Semoga kita bisa mengangkat perekonomian Kampung Ugar, terlebih Kampung Ugar memliki keunikan sejarah dan ecotourism yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Potensi ekonomi kreatif di Kampung Ugar juga menjanjikan, seperti halnya keunikan kuliner.
Mulai dari ikan kakap kuah kuning, tagas-tagas, kangkong tumis, ayam bumbu bakar bambu, kue lontar, sirup pala hingga nasi kelapa bakar.
Desa Wisata Tondok Bakaru Masuk 50 Besar ADWI 2022, Sandiaga Uno: Keindahan Alamnya Luar Biasa
Desa Wisata Tondok Bakaru di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat sukses masuk peringkat 50 besar terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
Keberhasilan Desa Wisata Tondok Bakaru tak lepas dari kepiawaian masyarakat setempat dalam mengandalkan potensi budaya dan kekayaan alam.
Atas pencapainnya, Desa Wisata Tondok Bakaru mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.
Baca juga: Unggulkan Wisata Edukasi dan Buatan, Desa Wisata Dayun Masuk 50 Besar ADWI 2022
Hal itu disampiakan Sandiaga Uno dalam kunjungannya ke ke Desa Tondok Bakaru pada Rabu (12/10/2022).
"(Desa Tondok Bakaru) ini keindahan alamnya luar biasa. Alamnya sejuk dan mata kita dimanjakan dengan hijaunya hamparan sawah," kata Sandiaga Uno, seperti dikutip dari rilis resmi Kemenparekraf.
Desa Wisata Tondok Bakaru terletak tepat di bawah kaki Gunung Mambulilling yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Barat dengan ketinggian 2.741 meter.
Wisatawan yang berkunjung akan disuguhi pemandangan berupa hamparan sawah dan budidaya bunga anggrek.
Selain itu, desa yang berjarak sekitar 1 kilometer dari ibu kota Kabupaten Mamasa ini juga merupakan desa terakhir sebelum memasuki Taman Nasional Gandang Dewata.
Baca tanpa iklan