Namun, selama hari-hari berikutnya, ketika para pembajak menjadi frustrasi dengan langkah negosiasi dan penolakan pihak berwenang untuk mengisi bahan bakar pesawat, dua penumpang pria Kuwait ditembak mati di pesawat, dengan tubuh mereka dibuang begitu saja di bandara.
Selain itu, pilot melaporkan melalui radio bahwa para pembajak mulai memukuli penumpang, menyebabkan beberapa luka, sementara yang lain kesakitan.
Dengan negosiasi yang tak berlajan lancar, para pembajak mengeluarkan ancaman untuk lepas landas dan menerbangkan pesawat ke Istana Kerajaan di Kota Kuwait.
Mereka juga mengeluarkan peringatan untuk melakukan pembatntaian terhadap penumpang dan awak yang tersisa jika tahanan Lebanon tidak dibebaskan dan pesawat tidak diisi bahan bakar.
Menambah ketegangan, para kru melaporkan bahwa para pembajak telah mengenakan kain kafan dan telah mengganti nama pesawat dari menjadi ' Plane of the Great Martyrs ' dalam persiapan untuk melaksanakan misi ancaman penghancuran pesawat dan penumpang yang tersisa.
Situasi yang sangat kontroversial itu semakin diperparah ketika pengontrol lalu lintas udara di Larnaca terus menggunakan tanda panggil pesawat sebagai 'Kuwait empat-dua-dua' daripada nama baru yang diberikan oleh para pembajak.
Dengan ketegangan yang jelas meningkat dan dengan ancaman pesawat yang akan diledakkan di tanah di Larnaca, pihak berwenang Siprus akhirnya melepaskan dan mengisi bahan bakar pesawat.
Pada 13 April, lima hari setelah mendarat di Siprus, penerbangan KU422 mengudara sekali lagi, kali ini menuju Aljazair yang telah memberikan izin pesawat untuk mendarat di sana.
Setibanya di Bandara Houari Boumedienne di Aljir (ALG), pihak berwenang Aljazair memulai negosiasi dengan para pembajak.
Pesawat diizinkan untuk parkir di dekat terminal sehingga pihak berwenang dapat melihat apa yang terjadi di dalam pesawat sementara pembicaraan terus berlanjut.
Baca juga: Viral Seorang Penumpang Mencoba Memecahkan Kaca Pesawat dan Menyerang Staf Maskapai
Keesokan harinya, pada tanggal 14 April, seorang sandera dengan penyakit diabetes dibebaskan dengan alasan medis.
Kendati demikian, dua penumpang dipaksa menyampaikan pesan melalui radio pesawat bahwa penumpang yang tersisa akan dibunuh kecuali tuntutan pembajak dipenuhi.
Mereka melaporkan bahwa perlakuan buruk terhadap penumpang telah dimulai kembali dan bahwa siapa pun yang ditemukan berbicara tanpa izin di dalam pesawat menjadi sasaran kekerasan fisik.
Seiring berjalannya waktu, para pembajak menjadi semakin gelisah, dengan permintaan lebih lanjut untuk bahan bakar dilakukan pada 16 April.
Permintaan ini ditolak atas perintah otoritas Kuwait dan Arab Saudi (yang terakhir telah bertindak sebagai mediator untuk menyelesaikan situasi).
Baca tanpa iklan