Selaku salah satu penggagas, Rulli menyebutkan bahwa Kayutangan Street Style memang terinspirasi dari Citayam Fashion Week.
"Yang pastinya iya, itu salah satu inspirasi kita, tapi memang inisiatornya adalah fashion designer dan stylist-nya," kata Rulli.
Baca juga: 10 Tempat Sewa Motor di Malang, Simak Tarif dan Fasilitas Menariknya
3. Berbeda dengan Citayam Fashion Week
Meski demikian, Kayutangan Street Style berbeda dengan Citayam Fashion Week.
Hal itu terlihat dari penggagas gerakan Kayutangan Street Style yang merupakan para pelaku fesyen.
"Kalau di Citayam itu di mulai dari anak-anak yang ingin nongkrong, tidak ada latar belakang fashion, tapi ingin mengaktualisasi diri lewat fesyen," jelas Rulli.
"Kalau di Kayutangan, yang inisiasi adalah orang-orang yang paham dan mengerti fesyen," sambungnya.
3. Sempat dikritik warganet
Kayutangan Street Style sempat dikritik warganet karena dianggap meniru Citayam Fashion Week.
Ada juga warganet yang menilai kegiatan itu tak mengangkat pakaian tradisional dan menimbulkan kemacetan, dilaporkan Kompas.com.
Rulli mengatakan, Kayutangan Street Style digagas fashion stylist dan fashion designer nonasosiasi di Malang.
Sehingga lebih memprioritaskan orang-orang yang mengenakan pakaian bergaya modern.
"Kalau yang pakaian berkaitan warisan nusantara tidak untuk kegiatan ini karena asosiasinya atau wadahnya sudah ada, bukan bermaksud merendahkan," jelasnya.
"Ini buat yang belum punya wadah, di Malang banyak karya busana yang luar biasa dan menarik tetapi belum dikenal," lanjut Rulli.
Untuk masalah kemacetan, Kayutangan Street Style sebenarnya digelar di depan halaman salah satu dealer di kawasan Kayutangan Heritage pada Jumat (22/7/2022).
Baca tanpa iklan