Sehingga sengan demikian Jl Jenderal Sudirman tidak harus digunakan bagi orang-orang dengan kondisi sosial ekonomi menengah ke atas.
Lebih dari itu adalah ruang demokratisasi sekaligus bentuk kesetaraan pada area terbuka.
"Ketika membangun tidak dikerjakan sendiri. Kita ngobrol dengan FDTJ (Forum Diskusi Transportasi Jakarta)," jelasnya.
"Kita ngobrol dengan teman-teman yang mengelola skateboard ini. Komunitas skateboard Dukuh Atas itu perancangannya bersama mereka," lanjutnya.
Anies menegasakan bahwa kawasan Jl Jenderal Sudirman agar dibiarkan menjadi tempat bertemu bagi banyak orang.
Sebagai ruang ketiga, Jl Jenderal Sudirman kini merupakan bentuk dari mempersatukan dan membangun perasaan kesetaraan.
"Jadi kita mencoba membuat tempat ini menjadi ruang ketiga yang mempersatukan ruang ketiga yang menyetarakan, dan biarlah mereka semua menikmati tempat ini dengan caranya masing-masing," jelasnya.
"Jadi itu latar belakangnya ketika terjadi fenomena fenomena yang baru saja muncul," tutupnya.
Baca juga: Jakarta dan 9 Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia
Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Terapkan Program Moda Ramah Lingkungan, Siap Bangun Bike Lounge untuk Pesepeda
(TribunTravel/Zed)
Baca selengkapnya soal Anies Baswedan di sini.
Baca tanpa iklan