Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Penumpang Lansia Difabel Gagal Terbang karena Staf Bandara Lupa Membantunya Naik Pesawat

Penulis: Nurul Intaniar
Editor: Sinta Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi kursi roda.

TRIBUNTRAVEL.COM - Insiden kurang menyenangkan belum lama ini dialami oleh penumpang lansia di bandara.

Wanita lansia penyandang disabilitas tersebut ketinggalan pesawatnya untuk penerbangan dari Bandara Birmingham, Inggris ke Spanyol.

Insiden tersebut terjadi karena staf bandara lupa untuk membantunya naik pesawat.

Padalah, penumpang bernama Sheila Cottrill (87) asal Nuneaton, Warwickshire itu sudah tiba di bandara tiga jam sebelum jadwal penerbangan naik pesawat Ryanair ke Barcelona, Spanyol.

Dalam kisahnya, Cottrill mengaku ingin mengunjungi putranya, Jeremy di Spanyol yang sudah terpisah darinya selama pandemi.

Cottrill yang saat itu menggunakan kursi roda di bandara, dibawa melewati keamanan oleh staf.

Baca juga: Pasangan Kekasih Menikah di Pesawat, Awak Kabin & Penumpang Jadi Saksinya

Ilustrasi kursi roda. (Flickr zeevveez)

Wanita itu kemudian ditinggalkan sendirian di dekat gerbangnya, lapor Daily Star.

Ia diberitahu bahwa seseorang akan kembali datang untuk membantunya naik ke pesawat.

Akan tetapi selama menunggu sendirian, Cottrill tak melihat tanda-tanda staf bandara yang datang untuk membantunya naik pesawat.

Dia bahkan melihat pesawat yang harusnya ia naiki terbang tanpanya.

Diselimuti rasa kesal, Cottrill kemudian diberitahu bahwa ada kekurangan pengemudi "Ambulift" untuk membantu mereka yang memiliki masalah mobilitas.

Staf bandara lupa memberitahunya saat itu.

Jeremy, putra Cottrill mengatakan pada BirminghamLive: "Ini bukan cara untuk memperlakukan penumpang difabel lanjut usia yang bepergian sendiri pada situasi liburan pertamanya pasca-Covid."

"Sebelum kejadian semua ini, dia mengatakan bahwa dia telah kehilangan kepercayaan dirinya untuk bepergian. Sekarang saya benar-benar khawatir (akibat insiden) ini akan menjadi yang terakhir kalinya dia mempertimbangkan untuk naik pesawat."

"Bantuan di bandara seharusnya ada untuk orang difabel. Benar-benar tidak ada perhatian dan simpati."

Halaman
123