Gedung utama di sisi utara tampak masih kokoh dan kondisi atap masih bagus.
Baca juga: 5 Tempat Makan Nasi Uduk Enak di Semarang Buat Menu Sarapan, Porsinya Pas dan Banyak Pilihan Lauk
Baca juga: Rekomendasi 6 Tempat Makan Nasi Padang di Semarang yang Enak untuk Makan Siang
Bangunan di gedung utama itu memang sudah direnovasi di tahun 1960, sehingga bentuknya berbeda dengan rombakan di tahun 1913.
Terutama di gedung utama bagian depan yang berbentuk kotak vertikal.
"Atap bangunan di sisi selatan sempat mau diperbaiki oleh Hotel Indonesia Grup yang memiliki bangunan ini tapi ada pandemi sehingga renovasi dihentikan, " ucap penjaga hotel Inn Dibya Puri, Amir (57) kepada Tribunjateng.com, Kamis (24/3/2022).
Seorang penjaga hotel Inn Dibya Puri, Amir (57) yang sudah 34 tahun di tempat itu menceritakan pengalamannya selama bekerja di sana.
Kepada TribunJateng.com Amir mengatakan dirinya bekerja di Inn Dibya Puri sejak masih bujang sebagai tukang laundry.
Ia sempat merasakan masa kejayaan hotel itu sebelum tutup permanen pada tahun 2008.
Terakhir dirinya menjabat sebagai kepala service food and beverage.
Selepas hotel tutup, ia mengajukan diri menjadi security.
Baca juga: Rekomendasi 6 Tempat Makan Nasi Padang di Semarang yang Enak untuk Makan Siang
Baca juga: Rekomendasi 6 Tempat Makan Malam Enak di Semarang, dari Gudeg Koyor hingga Nasi Ayam
"Kalau bangunan hotel ini tidak dijaga bisa rusak. Atap dapat dicuri," terangnya.
Hotel itu tutup lantaran persaingan hotel yang kian ketat di Kota Semarang.
Bangunan milik BUMN tersebut kian ditinggalkan konsumen karena kurang baiknya manajemen di perusahaan.
Menurut Amir, kolapsnya hotel dapat terjadi karena ketika masih leading manajemen hotel merasa nyaman.
Apalagi saat itu didukung kebijakan pemerintah di antaranya setiap pejabat Kopri harus tidur di hotel pemerintah.
Selepas masa itu berakhir, banyak pejabat enggan tidur di hotel tersebut.
Baca tanpa iklan