Selain merica, ia menuturkan beberapa rempah yang membuat sensasi Padang-nya berbeda ialah pala, jahe, kolaka, cabe kering, dan yang lainnya.
“Dulu sering, banyak yang ngerjain temennya suruh tulis pedas, padahal kalau di sini pilihan pedas itu berarti lebih dari pedas dari nasi goreng biasanya,” ujar Bambang.
Ia mengatakan, hampir 90 persen penyuka pedasnya ialah kalangan mahasiswa.
Tak hanya dari Semarang, bahkan berkali-kali ia mendapatkan pelanggannya dari Jogja.
Tips bagi yang tidak suka pedas
Bambang mengatakan jika tak suka pedas, tulislah 'tidak pedas', maka traveler akan merasakan Nasi Goreng Padang tanpa rempah cabai kering.
Sensasinya tetap pedas, tetapi sangat tipis, ia biasa menyebutnya spicy.
Sementara tingkatan 'sedang', cukup bagi yang tak terlalu suka pedas.
Ia pun menambahkan sedikit porsi rempah dan juga sedikit bumbu cabai kering.
Baca juga: 35 Kilogram Jagung Ludes Serhari, Jagung Serut Tombo Ati di Semarang Selalu Dikerubuti Pembeli
“Jika sedang itu mungkin kalau di nasi goreng biasa sudah termasuk pedas, pake bumbu biasa tapi cabe kering dikit,” ujarnya.
Naik di atasnya, traveler bisa menuliskan 'pedas' untuk mendapatkan sensasi pedas sekaligus panasnya rempah.
Di sini ia, menggunakan banyak rempah dan bumbu cabai kering sedikit.
Terakhir bagi pencinta pedas, silakan memesan dengan menuliskan 'pedas banget'.
Maka siap-siap traveler menyeka keringat yang memenuhi kening, karena rempah dan cabai kering yang digunakan porsinya sama banyak.
“Kalau pedas banget, kombinasi antara cabe dan rempah pedasnya setengah setengah, sensasinya pedas, juga panas di akhir-akhir. Hangat si cocok buat cuaca dingin,” ujarnya sambil sedikit tertawa.
Baca juga: 5 Sate Kambing Enak dan Murah di Semarang untuk Makan Siang, Sate Kambing Pak Man Dagingnya Empuk
Baca juga: Terbaru, Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk Cimory On The Valley Semarang Januari 2022
Baca tanpa iklan