Diyakini sebagai kuil tertua di dunia, keberadaannya menunjukkan bahwa agama datang lebih dulu sebelum era pertanian.
Penemuan ini menjungkirbalikkan teori yang selama ini dipercaya.
“Gobekli mengubah segalanya,” kata Ian Hodder, seorang antropolog di Universitas Stanford. “Ini rumit, kompleks, dan pra-pertanian. Fakta itu saja membuat situs itu menjadi satu penemuan arkeologi terpenting dalam waktu yang sangat lama.”
Namun meski Gobekli Tepe menjanjikan jawaban baru tentang jalannya sejarah, ia juga menyimpan beberapa misteri aneh yang belum terpecahkan.
Penemuan Gobekli Tepe
Baca juga: Raffi Ahmad Liburan ke Turki, Menginap di Hotel Penuh Berlian dengan View 2 Benua
Ketika para arkeolog pertama kali menemukan Gobekli Tepe pada 1960-an, mereka menganggapnya tidak lebih dari kuburan Abad Pertengahan.
Ini karena ditemukannya banyak lempengan yang dikira sebagai batu nisan.
Tetapi arkeolog Jerman Klaus Schmidt melihat sesuatu yang berbeda.
Ketika dia mendengar tentang bukit itu, dia memutuskan untuk melihatnya sendiri.
Dan ketika Schmidt tiba di Gobekli Tepe, dia percaya bahwa bukit itu tampak buatan manusia.
Dia merasa yakin bahwa “hanya manusia yang bisa menciptakan sesuatu seperti ini.”
Seperti yang dia katakan kemudian: “Dalam satu menit pertama kali melihatnya, saya tahu saya memiliki dua pilihan. Pergilah dan beri tahu siapa pun, atau habiskan sisa hidupku dengan bekerja di sini.”
Schmidt memutuskan untuk tinggal.
Setahun kemudian, Schmidt dan timnya menemukan megalit yang terkubur di tanah dan pilar-pilar yang disusun melingkar. Menariknya, beberapa pilar memiliki ukiran kompleks binatang seperti singa, ular, dan kalajengking.
Lebih menarik lagi, segera diketahui bahwa situs tersebut berusia antara 11.000 dan 12.000 tahun .
Baca tanpa iklan