Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Menguak Kengerian Pulau Iblis di Guyana Prancis, Puluhan Ribu Orang Jadi Korban

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pulau Iblis

TRIBUNTRAVEL.COM - Sepintas, Pulau Iblis tampak seperti surga.

Dihiasi dengan pohon palem dan dikelilingi oleh air yang berkilauan, keindahannya memungkiri kebenaran yang mengerikan di baliknya.

Selama hampir 100 tahun, puluhan ribu orang tewas di pantainya.

Dari tahun 1852 hingga 1953, Pulau Iblis — yang sebenarnya meliputi tiga pulau di lepas pantai Guyana Prancis — menampung para tahanan Prancis.

Kejahatan mereka berkisar dari menyinggung Napoleon III hingga pembunuhan.

Pulau Iblis (Flickr/keith_rock)

Baca juga: Traveling Sehari Cuma Modal Rp 72 Ribu, Turis Asing Ini Sebut Bali Sebagai Pulau Termurah di Dunia

Tetapi beberapa di antaranya tak melakukan kejahatan apapun.

Namun demikian, mereka semua mengalami penderitaan yang sama.

Orang-orang yang dipenjara di Pulau Iblis menderita penyakit yang merajalela, kekurangan gizi, dan perlakuan buruk oleh penjaga.

Hanya sedikit yang bisa kembali ke Prancis.

Ini adalah kisah Pulau Iblis, satu tempat hukuman paling brutal di dunia.

Asal Muasal Nama Pulau Iblis

Sebelum menjadi tempat hukuman, Pulau Iblis dipandang sebagai tempat keselamatan — secara harfiah.

Pada 1760-an, para pemukim Prancis yang dilanda oleh demam kuning mencari perlindungan di tiga pulau yang berjarak delapan mil dari pantai Guyana Prancis.

Ketiga pulau itu kemudian mereka namai dengan le Royale yang berarti raja, le St Joseph yang berarti perlindungan orang suci, dan le du Diable karena perairan yang dipenuhi hiu.

Mereka menjuluki kepulauan kecil itu sebagai pulau Keselamatan.

Baca juga: Jelajah Pulau Kalimantung, Hidden Gem di Sumatera Utara untuk Menyaksikan Sunset

Reruntuhan Pulau Iblis (Flickr/keith_rock)

Baca juga: Nelayan di Pulau Bawean Temukan Dua Guci Kuno Bersejarah, Diduga Berasal dari China

Halaman
1234