Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Warga Geram, Satu Keluarga Covid-19 dari Indonesia Diizinkan Masuk Australia dengan Pesawat Carteran

Penulis: Sinta Agustina
Editor: Nurul Intaniar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi hasil tes virus corona.

Sementara itu, satu keluarga dari Indonesia yang positif Covid-19 tersebut bisa masuk dengan penerbangan khusus.

Adelaide, Australia. (Dok. Booking.com)

"Tidak semua orang memiliki uang sebanyak yang mungkin harus dibayar orang-orang ini untuk datang menggunakan penerbangan medevac," ujar Joura.

"Mereka bisa terbang dan pemerintah memberi mereka izin, sedangkan ada orang lain misalnya di India atau bagian lain dunia yang mungkin memiliki kondisi kesehatan yang serius dan mungkin positif dan mereka ditolak izin atau repatriasi," jelasnya.

Penerbangan dianggap 'prosedur standar'

Perdana Menteri Australia Selatan Steven Marshall mengatakan, adalah hal biasa di negara bagian timur untuk menyelenggarakan penerbangan medevac dari luar negeri karena kedekatannya dengan wilayah Asia.

"Tetapi dengan yang satu ini, karena orang ini berasal dari Australia Selatan, keputusannya adalah membawa mereka ke sini, jadi jelas tidak ada campur tangan politik," katanya kepada ABC Radio Adelaide.

Baca juga: Tiket Pesawat Murah ke Padang, Terbang dari Jakarta Naik AirAsia Mulai Rp 434 Ribuan

"Pemahaman saya adalah bahwa kemungkinan besar itu adalah medevac yang didanai asuransi," lanjut Steven.

Sementara itu, Kepala Petugas Kesehatan Masyarakat Nicola Spurrier mengatakan apa yang terjadi adalah pengambilan medevac standar.

"Medevac berupa penerbangan dengan pesawat kecil yang ditetapkan sebagai rumah sakit. Ini sudah ada sebelum Covid-19," katanya.

Baca juga: Jangan Lakukan 5 Hal Ini saat Berada di Pesawat Selama Pandemi Covid-19

"Biasanya ketika orang bekerja di negara yang dekat dengan Australia dan mereka jatuh sakit dan sistem perawatan kesehatan di negara itu tidak mampu menangani apapun yang salah dengan mereka, maka pemulihan medis diorganisir. Itu diatur antara rumah sakit," jelas Nicola.

Ia melanjutkan, persetujuan akan diperlukan dari Persemakmuran sebelum pasien diterbangkan kembali.

"Pemahaman saya adalah bahwa orang tersebut dipekerjakan oleh perusahaan Australia dan perusahaan itu berkewajiban untuk membantu jika sakit," ujarnya.

Senada dengan Steven, Nicola juga menganggap penerbangan itu sebagai prosedur standar.

"Ini adalah hal standar yang terjadi dengan pengambilan medevac. Pandemi atau tidak ada pandemi, ini telah terjadi selama bertahun-tahun," tutupnya.

(TribunTravel.com/Sinta A.)