Pemandangan Miris Kamp Hewan di Thailand, Gajah Kurus Ditemukan Terikat Rantai Leher

Potret gajah

TRIBUNTRAVEL.COM - Pemandangan miris terlihat di sebuah kamp hewan di Thailand.

Gajah yang tampak kurus ditemukan oleh turis saat mengunjungi Kamp Chang Puak, Ratchaburi, Thailand.

Kamp hewan ini terkenal menawarkan wahana dan pertunjukkan gajah.

Tiga gajah - Plai See Dor Thong Pool, 15, Plai Boon Mee, 15, dan Plai Kham Kaew, 45 - dilaporkan sangat lemah sehingga harus diikat dengan rantai di leher mereka.

Rekaman video dan gambar menunjukkan gajah kurus itu tampak merosot di atas tiang logam saat mereka berjuang untuk berdiri dan tidak dapat bergerak bebas.

Hewan-hewan itu diyakini telah menderita penelantaran setelah pandemi Covid-19 membunuh pariwisata internasional di Thailand - mengurangi hingga 20 persen dari PDB negara itu.

Baca juga: Video Viral, Momen Mengharukan Seekor Gajah Beri Penghormatan Terakhir pada Pawangnya

Ilustrasi induk dan anak gajah (Pixabay/Free-Photos)

Baca juga: Belasan Gajah Kabur dari Cagar Alam, Rusak Lahan Pertanian dan Bikin Rugi Rp 15 M

Beruntung gajah tersebut akhirnya ditemukan pada 18 Juni lalu oleh petugas dari Departemen Pengembangan Peternakan (DLD) setelah pihak kandang hewan dilaporkan ke pihak berwajib.

Gajah-gajah itu dilepaskan rantainya dan dibawa untuk diperiksa, sebelum mereka dikembalikan ke kamp hewan, di mana mereka tinggal sekarang.

Seorang juru bicara SLJJ mengatakan: 'Kami mengunjungi kamp setelah menerima laporan untuk mengkonfirmasi dan melihat hewan diikat menggunakan rantai. Kami sekarang sedang menyelidiki pawang mengapa mereka harus melakukan itu.

'Kami juga telah memperingatkan mereka untuk tidak mengulanginya atau mereka dapat didakwa melanggar undang-undang perlindungan hewan kami.'

Authai Saetang, petugas regional dari Departemen Pengembangan Peternakan (DLD), menambahkan: 'Tim mengunjungi kamp gajah pada 18 Juni dan melepaskan rantai dari tiga gajah. Mereka diperiksa oleh dokter hewan kami dan kemudian dikembalikan ke pemiliknya.

'Peringatan resmi dibuat dan dia setuju untuk tidak memelihara hewan dalam kondisi itu. Kami akan periksa lagi di masa depan dan jika gajah diabaikan dia akan diadili dan gajah akan disita.'

Dilansir TribunTravel dari laman dailymail, pejabat kamp dan pawang Thavorn Parnkaew meminta maaf setelah insiden tersebut dan menyangkal bahwa mereka kejam terhadap hewan.

Dia bersikeras bahwa gajah telah dirantai karena 'masalah keamanan' dan menambahkan bahwa dia akan memberitahu pawang untuk tidak mengikat hewan di leher mereka lagi.

Pelatih gajah melanjutkan: 'Banyak pawang kami diberhentikan karena Covid-19.

Baca juga: Kisah Tragis Tyke, Gajah Sirkus yang Ditembak Mati Polisi

'Kamp tidak dapat menanggung biaya membayar pawang dan memilih mempertahankan biaya makanan untuk gajah.

'Kami sekarang menghadapi kekurangan pawang untuk merawat gajah, jadi kami harus merantai mereka untuk masalah keamanan. Kami selalu merawat mereka seperti keluarga kami.

'Kami mohon maaf dan akan menginstruksikan semua pawang kami di kamp untuk tidak mengikat leher gajah lagi. Kami berharap pengertian semua orang.'

Kelompok hak hewan, termasuk People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), telah mengkampanyekan negaraThailand untuk melarang penggunaan gajah dalam industri pariwisata.

Bos organisasi Asia Jason Barker mengatakan: 'Kamp gajah, yang telah mendapat keuntungan dari penderitaan gajah selama beberapa dekade, harus mengembalikan gajah di tempat-tempat perlindungan terkemuka seperti BLES segera sebelum mereka mati karena diabaikan dan kelaparan.

Baca juga: 4 Kisah Memilukan Gajah Berujung Tragis, Dipaksa Parade hingga Angkut Turis

Ilustrasi dua gajah (unsplash.com/@emmanem)

Baca juga: TRAVEL UPDATE: Heboh Temuan Bangkai Gajah Mina di Perairan Natuna, Begini Penjelasan LIPI

Halaman
12