Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

10 Hal yang Penting Dihindari di Pesawat, Termasuk Minum Kopi dan Teh Panas

Penulis: Ratna Widyawati
Editor: Kurnia Yustiana
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi toilet pesawat.

3. Jangan berjalan tanpa alas kaki

Pramugari telah melihat semuanya, mulai dari muntah hingga darah serta makanan yang tumpah jatuh ke karpet kabin.

"Kami melihat orang-orang berjalan dari tempat duduk mereka ke kamar mandi sepanjang waktu tanpa alas kaki dan kami merasa ngeri karena lantai itu penuh dengan kuman," kata Linda Ferguson, pramugari yang bekerja selama 24 tahun.

"Jangan pernah berjalan tanpa alas kaki ke kamar mandi atau area dapur karena terkadang kita menjatuhkan kacamata dan mungkin ada kaca tajam juga di sana," imbuhnya.

4. Jangan minum es

Sebuah studi EPA pada tahun 2004 menemukan bahwa dari 327 pasokan air di pesawat, hanya 15 persen yang memenuhi standar kesehatan.

Sejak pembuatan Undang-Undang Aturan Minum Pesawat EPA 2009, standar telah meningkat dan sebagian besar pesawat tidak menyajikan air minum dari keran, tetapi es batunya sering kali masih dibuat dari air yang sama.

"Tangki air di pesawat sudah tua dan mereka telah mengujinya serta bakteri ada di dalam tangki itu," jelas Ferguson.

"Saya pasti akan minum air kemasan, itu sebabnya mereka menimbun berton-ton botol di pesawat," lanjutnya.

5. Jangan matikan AC yang berada di atas kursi

Jika hembusan udara membuatmu kedinginan, mungkin lebih baik memakai kaus kaki atau jaket daripada mematikan AC.

Dokter menyarankan bahwa udara yang dapat diatur di atas kursi harus disetel ke sedang atau tinggi dalam penerbangan sehingga kuman di udara dapat dihembuskan sebelum mereka memasuki zona pribadimu.

6. Jangan makan makanan setelah jatuh di atas meja nampan

Awak maskapai melakukan yang terbaik untuk membersihkan pesawat, tetapi sebaiknya biarkan remah kue itu dibuang jika mengenai nampan dan bukan piringmu.

"Meja nampan itu terkenal," kata Stephen Morse, profesor epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Mailman Universitas Columbia.

Halaman
1234