Sementara itu, para penyelidik telah mengumpulkan rekaman terakhir pasangan itu sebelum tragedi terjadi.
Mayor Polisi Koh Tao Jiraphob Puridech mengatakan pasangan itu duduk di bar kolam renang sebelum melompat ke kolam untuk berenang.
"CCTV di daerah itu tidak berfungsi selama beberapa bulan karena kurangnya pemeliharaan tetapi petugas sekarang mengumpulkan bukti dari kamera yang dipasang di bagian lain hotel," katanya.
"Kolam itu juga seharusnya kosong, karena ditutup karena pembatasan Covid-19," lanjutnya.
Puridech mengatakan tidak ada tanda-tanda perkelahian di tempat kejadian dan pemeriksaan awal terhadap mayat-mayat itu tidak menunjukkan adanya penganiayaan.
Baca juga: Ingin Staycation di Bogor? Ini Tarif Menginap dan Harga Tiket Masuk Chevilly Resort & Camp Terbaru
Baca juga: Mengenal Profesi Petugas Pemeriksa Jalur, Pekerjaan Menantang yang Punya Peran Vital di KAI
Penyelidik akan mempertimbangkan apakah kedalaman kolam yang sekitar 3 meter di salah satu ujungnya mungkin menyebabkan pasangan itu tenggelam.
Mereka juga akan melihat kondisi kesehatan apa pun yang mungkin menjadi faktor.
Ratish telah memberi tahu polisi bahwa ayahnya menderita diabetes, hipertensi, dan apnea tidur obstruktif.
"Penyelidikan akan mencakup kedalaman kolam renang, kondisi kesehatan mereka dan kemungkinan pelanggaran," kata Puridech.
"Semua saksi juga akan diperiksa. Ini untuk mencegah masyarakat berspekulasi dan menjadi takut pada daerah itu karena insiden kejahatannya, sambungnya.
Sejarah Kelam Koh Tao
Reputasi kelam Koh Tao telah membuatnya menjadi terkenal secara global.
Dengan kasus kematian pasangan tersebut, menambah daftar panjang jumlah korban tewas.
Sementara sebagian besar dari jutaan turis yang berduyun-duyun ke pulau tersebut untuk kesempatan menyelam kelas dunia, resor mewah dan sinar matahari tanpa akhir, banyak juga yang tak pulang dari pulau itu.
Dan rasa sakit yang dirasakan oleh banyak orang yang mereka cintai telah diperburuk oleh kecurigaan ditutup-tutupinya penyelidikan.
Baca tanpa iklan