Namun. ada campuran rempah-rempah lokal sehingga rasanya lebih gurih dan bisa diterima oleh lidah masyarakat.
"Rasa ada perubahan. Kalau dari arabnya langsung hampir tidak ada rasanya," kata Maimunah, pemilik dari restoran yang sudah berdiri selama 10 tahun.
Maimunah mengatakan, daging kambing oven yang disajikan diproses menggunakan kertas aluminium.
Hal itu membuat daging yang disajikan lebih empuk.
Sementara daging kambing yang tidak perengus, menurut Maimunah, karena ia menggunakan kambing lokal Tegal.
Ia menilai kambing asli Tegal punya kualitas daging yang bagus.
Namun hal itu juga bergantung pada cara penyembelihan.
Jika benar, maka daging kambingnya tidak akan perengus.
"Tapi itu ya tergantung cara penyembelihannya. Kalau yang menyembelihnya tidak pintar ya jadi perengus," ujarnya.
Maimunah mengatakan, sajian kuliner ditempatnya harganya berbeda-beda.
Nasi mandhi Rp 44 ribu per porsi, nasi bukhari Rp 35 per porsi, dan nasi kebuli Rp 33 ribu per porsi.
"Di sini buka dari jam 10.00 WIB sampai sehabisnya. Kalau maghrib habis ya tutup," ungkapnya.
Baca juga: 10 Kuliner Malam di Jogja Paling Laris, Pedasnya Gudeg Mercon Bu Tinah Bikin Nagih
Baca juga: Berburu Kuliner di Bandung? Cicipi Lezatnya Perkedel Bondon yang Legendaris
Baca juga: Kejunya Lumer di Mulut, 5 Martabak Telur Premium di Surabaya Ini Cocok untuk Kuliner Malam
Baca juga: Rekomendasi 6 Kuliner Khas Purwokerto Buat Sarapan, Bisa Pilih Soto Sokaraja yang Menggiurkan
Baca juga: 5 Kuliner Khas Sumatera Utara yang Cocok Buat Menu Buka Puasa, Ada Lemang hingga Bubur Pedas
(TribunTravel.com/Mym)
Baca selengkapnya soal rekomendasi kuliner di sini.
Baca tanpa iklan