Kedua, 'gibungan' yaitu segepok nasi dengan alas gelaran (dari daun pisang) yang ditaruh di atas dulang atau nampan.
Kemudian terakhir ada 'karangan' yang berarti lauk pauk yang bervariasi.
Merujuk pada istilah tersebut tradisi megibung memang dilakukan dengan cara makan dalam satu wadah.
Untuk melakukan tradisi ini tentu tidak sembarangan karena ada tata caranya tersendiri.
Mulanya seorang warga harus menyiapkan makanan di atas wadah (gibungan) kemudian barulah menaruh lauk pauk.
Lauk pauk dalam tradisi gibungan juga disajikan dalam berbagai pilihan.
Mulai dari lawar, kekomoh, urab (nyuh-nyuh) putih dan barak, padamare, urutan, marus, balah hingga sate.
Dalam menyusun lauk saat tradisi megibun juga terbilang unik karena memilki urutan tersendiri dan akan disusun oleh seorang 'sale'.
Penyusunan tersebut dimulai dari kekomoh dan urab yang disusun pertama kali, kemudian lawar, daging dan terakhir adalah balah.
Satu porsi nasi dan lauk yang sudah tersusun tersebut oleh masyarakat setempat disebut dengan istilah satu sela.
Satu sela yang dimaksud adalah satu kelumpok yang akan menikmati hidangan gibungan.
Dalam satu kelompok biasanya terdiri dari 5-8 orang dengan posisi duduk bersila dan melingkar.
Pada setiap kelompok ini nantinya akan dipimpin oleh seorang pepara yang bertugas untuk mengkordinir prosesi tradisi.
Sebelum melakukan tradisi megibung juga terdapat etika yang harus dipenuhi oleh semua masyarakat.
Di antaranya yaitu mencuci tangan sebelum makan dan tidak boleh menjatuhkan sisa makanan dari suapan saat sedang makan.
Baca tanpa iklan