"Setiap kilometer persegi (km²) daratan Bumi akan mendapatkan 1 meteorit dalam 50.000 tahun," jelasnya.
Nah, memperhitungkan luas daratan Indonesia yang sebesar 1,9 juta kilometer persegi, maka secara statistik akan ada 1 buah meteorit yang mendarat di Indonesia setiap 10 hari sekali.
Dengan memperhitungkan fraksi area yang dihuni manusia, baik pedesaan hingga perkotaan, maka frekuensi wilayah daratan Indonesia yang berpenghuni akan menyaksikan meteor-terang atau meteor-sangat terang.
Nah, meteor-terang atau meteor-sangat terang tersebutlah yang memproduksi meteorit setiap 50 hingga 60 hari sekali.
Marufin menyebutkan, dalam lima bulan terakhir, yaitu Agustus 2020 hingga Januari 2021, ada dua kejadian tumbukan benda langit yang memproduksi meteorit di Indonesia.
Namun, Marufin meyakini bahwa kejadian suara dentuman misterius yang terjadi di Malang bukanlah berasal dari jatuhnya benda antariksa atau meteoroid, maupun gempa bumi.
Tonton juga:
"Tidak ada. Tidak disertai laporan terlihatnya kilatan cahaya terang ataupun rekaman seismik unik dari sensor seismometer terdekat," jelasnya.
Selain itu, meskipun pada tanggal 2 Februari 2021 diprediksi adanya Obyek 2020 SO yang lewat dekat Bumi, hal itu tidak ada kaitannya dengan suara dentuman tersebut.
"Obyek 2020 SO lewat pada jarak 255.000 kilometer dan sudah dipastikan sebagai bekas roket. Jadi, enggak jatuh kembali ke Bumi," ujarnya.
Baca juga: TRAVEL UPDATE: Situ Burung Bogor, Tempat Bersantai dengan Panorama Alam Pedesaan
Baca juga: TRAVEL UPDATE: Sejarah Astana Giribangun Karanganyar, Area Pemakaman Keluarga Soeharto
Baca juga: TRAVEL UPDATE: Berkunjung ke Museum 3D Kota Tua Jakarta, Ini Protokol Kesehatan yang Wajib Dipatuhi
Baca juga: TRAVEL UPDATE: Menikmati Santai Sore di Situ Gede Dramaga Bogor yang Sejuk dan Asri
Baca juga: TRAVEL UPDATE: Pilihan Transportasi Menuju Pantai Sadranan dari Bandara Adisutjipto Jogja
(TribunTravel.com/Ratna Widyawati)
Baca tanpa iklan