Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

TRIBUNTRAVEL UPDATE

TRAVEL UPDATE: Niat Bersihkan Stadion, Warga Jogja Ini Malah Temukan Kerangka Manusia

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi penemuan kerangka manusia di dalam stadion sepak bola di kawasan Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta.

Kerangka mereka semuanya telah diatur secara artistik menjadi formasi yang menarik.
Tulangnya telah dibuat menjadi pahatan kreatif, seperti gundukan berbentuk lonceng dan lambang Schwarzenberg.

Keluarga Schwarzenberg adalah penguasa aristokrat lokal pada saat itu, TribunTravel melansir dari The Vintagenews.

Tetapi yang paling mengesankan dari semua formasi, adalah lampu gantung tulang raksasa di tengah gereja.

Menurut Radio Prague International, arkeolog yang melakukan penelitian di Ossuary abad ke-14 telah mengumumkan penemuan yang luar biasa.

Saat mereka menggali sekitar gereja, mereka menemukan 34 kuburan massal yang menampung total 1.200 kerangka.

Para ahli berkomentar ini adalah penemuan terbesar dari jenisnya di Eropa.

Sejak 2014 osuarium ini menjalani renovasi, sebagian untuk keperluan penelitian arkeologi dan antropologi.

Jan Frolik, satu anggota tim peneliti, berkomentar ini adalah penemuan paling signifikan yang pernah mereka lakukan.

Ilustrasi kerangka manusia. (Gambar oleh Rudy and Peter Skitterians dari Pixabay)

Disebutkan mereka telah menggali di sekitar osuarium tersebut sejak 2016 ketika survei arkeologi diluncurkan dan temuan terbesar mereka hingga saat ini adalah kuburan massal yang menampung para korban kelaparan yang terjadi pada 1318 dan korban wabah pada 1348.

Jan Frolik menambahkan, 'Ini bisa dibandingkan dengan kuburan di East Smithfield di London yang memiliki sekira 500 kerangka. Kami telah menemukan sekira 600 korban wabah dan 600 korban kelaparan, jadi seluruhnya 1.200 kerangka. '

Baru-baru ini mereka mulai meneliti di dalam kapel dan bukan hanya di halaman luar dan menemukan lebih banyak kuburan massal.

Di dalam kapel mereka menemukan lima kuburan massal lagi, yang berarti ketika osuarium itu awalnya dibangun, mereka tidak tahu bahwa kuburan itu ada di sana.

Renovasi gereja diperkirakan akan memakan waktu sekira 10 tahun untuk menyelesaikannya.

Meski penelitian arkeologi dan antropologi masih dalam tahap awal, Jan Frolik mengatakan temuan terbaru ini sudah banyak mengungkap tentang populasi Kutna Hora selama itu.

'Mereka dapat dikategorikan sebagai populasi pertambangan, karena ada prevalensi yang signifikan dari pria dibandingkan wanita.'

Halaman
123