Arak-arakan dengan membawa maskot "Warak Ngendok" ini telah menarik perhatian masyarakat untuk berkumpul dan menyaksikannya.
Awal mula tradisi dugderan sendiri berasal dari ide Bupati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat.
Pada masa pemerintahannya, masyarakat Semarang terbagi menjadi beberapa kelompok.
Kelompok tersebut di antaranya adalah pecinan (warga etnis Cina), pakojan (warga etnis Arab), Kampung Melayu (warga perantauan luar Pulau Jawa), dan Kampung Jawa.
Pengelompokkan ini dipicu oleh hasutan persaingan yang tidak sehat oleh kolonial Belanda saat itu.
Tak hanya itu, di antara umat Islam sendiri sering terdapat perbedaan pendapat mengenai penetapan awal puasa dan hari-hari besar Islam lainnya.
Nah, tradisi dugderan menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh Bupati KRMT Purbaningrat untuk memadukan perbedaan tersebut.
Dengan dukungan ulama setempat, tradisi ini menjadi media pemersatu warga Kota Semarang untuk berbaur, bertegur sapa, dan saling menghormati satu sama lain tanpa memandang perbedaan mereka.
Prosesi tradisi dugderan terdiri dari 3 agenda, yakni pasar malam dugder, kirab budaya Warak Ngendok, dan prosesi ritual pengumuman awal bulan Ramadan.
Binatang rekaan bernama Warak Ngendok kemudian dibuat untuk memeriahkan tradisi ini dengan tujuan menarik perhatian masyarakat sekitar.
Mengutip laman resmi menpan.go.id, Warak Ngendok merupakan representasi dari keragaman etnis yang ada di Semarang.
Bentuk kepala hewan rekaan ini mewakilkan ciri khas kebudayaan China, tubuhnya yang berbentuk seperti unta mewakilkan etnis Arab, dan keempat kakinya yang dibuat menyerupai kambing mewakilkan etnis Jawa.
Di tengah pandemi, tradisi dugderan ini masih terus dilaksanakan, namun tanpa keramaian.
Pada tahun 2020 lalu, tradisi dugderan dilakukan secara sederhana di Masjid Kauman dengan melakukan pemukulan beduk oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.
Baca juga: 6 Camilan Khas Betawi Ini Cocok Jadi Menu Buka Puasa saat Ramadan, Mana Favoritmu?
Baca juga: Rekomendasi 7 Menu Sahur ala Anak Kos yang Praktis, Enak dan Mengenyangkan Selama Bulan Ramadan
Baca juga: Melihat Proses Malamang, Tradisi Membuat Kudapan Ketan Pakai Bambu di Sumatera Barat
Baca juga: 5 Negara Ini Punya Tradisi Unik Agar Dapat Keberuntungan di Tahun Baru, Tidak Keramas Demi Beruntung
Baca juga: 7 Tradisi Perayaan Tahun Baru di Seluruh Dunia, Siram Air ke Orang hingga Pakai Baju Putih
Baca tanpa iklan