Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Mengenal Gereja Paroki Santo Simon Stock Gereja Legendaris di Kota Batu, Malang

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi Gereja Paroki St. Simon Stock Batu, Malang

“Mulanya, hanya empat orang suster Sang Timur tinggal di Biara Sr. Cornelia, PIJ yang menjadi Kepala Sekolah SDK Sang Timur perdana, mulai merintis lapangan pendidikan membina 102 orang murid dari TK – SD kelas VII,” paparnya.

Dia terus-menerus diteter dengan lonjakan angka statistik anak-anak yang ingin mendaftar ke sekolah itu.

Murid-murid pertama Suster Cornelia, antara lain Cornelis Sudjito.
Pada 1939, didirikan gedung gereja dan sekolah.

Dalam catatan sejarah di Keuskupan Malang, bangunan gereja yang terletak di pinggir jalan raya Panglima Sudirman sekarang ini, diberkati oleh Mgr. AEJ Albers O.Carm pada tanggal 19 Maret 1939.

Bangunan gereja ini sampai sekarang masih bertahan dengan model arsitek yang kokoh.

Gereja yang baru diresmikan ini kemudian diberi nama pelindung Santo Simon Stock.

Nama Santo Simon Stock ini dipakai juga sebagai pelindung Paroki Batu sampai ada perubahan nama kemudian hari.

Nama pelindung paroki Santo Simon Stock tetap terpakai dalam Buku Permandian Paroki.

Orang yang pertama kali masuk dalam catatan Buku Permandian ( Liber Baptizatorum I no 1) tertanggal 1 September 1935 dengan nama Raymundus Ronny yang lahir di Surabaya.

“Saat itu yang membaptis adalah Pastor El Wouters OCarm. Sebelum ada buku Permandian ini semua catatan ada di Paroki Hati Kudus Yesus – Kayutangan- Malang,” katanya.

Sedangkan penerimaan Sakramen Krisma yang diberikan oleh Mgr. AEJ Albers O.Carm pertama kali di Paroki Santo Simon Stock terjadi pada tanggal 13 Agustus 1939 di Gereja yang baru diberkati ini.

Kini, bangunan gereja masih berdiri kokoh namun sudah tidak lagi efektif untuk digunakan kegiatan keagamaan.

Gereja St Simon Stock yang terletak di Jl Panglima Sudirman No 59 Batu, didirikan pada tahun 1939 dengan kapasitas sekitar 250 orang saja.

Di samping itu gereja yang terletak di tepi jalan raya itu, karena perkembangan dan kemajuan, juga terasa bising dan ramai karena kesibukan lalu lintas.

Sehingga seringkali kekhusyukan umat dalam mengikuti Misa Kudus terganggu.

Halaman
123