Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Apakah Tempat Wisata di Karanganyar Tetap Buka Selama Gerakan 'Jateng di Rumah Saja'?

Editor: Nurul Intaniar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wisata Tawangmangu Wonder Park, Jumat (1/1/2021).

TRIBUNTRAVEL.COM - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah membuat gerakan 'Jateng di Rumah Saja' yang efektif diberlakukan mulai 6-7 Februari 2021.

Gerakan Jateng di Rumah Saja ini berarti, masyarakat harus tetap di rumah dan tidak diperkenankan untuk bepergian, seperti liburan misalnya.

Lalu, apakah gerakan Jateng di Rumah Saja akan berpengaruh pada operasional tempat wisata?

Rupanya hadirnya aturan baru soal gerakan Jateng di Rumah Saja ini kemungkinan tidak mempengaruhi tempat wisata di Karanganyar.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar Titis Sri Jawoto mengatakan bahwa tidak ada penutuoan tempat wisata yang ada di sana selama berlangsungnya gerakan Jateng di Rumah Saja, 6–7 Februari 2021.

“Kemungkinan tetap buka. Tapi ya enggak akan ada pengunjung,” kata Titis ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (4/2/2021).

Pasalnya selama masa pandemi COVID-19 ditambah dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dampaknya sangat berat pada pelaku usaha pariwisata.

Wisata Gunung Gamping Tawangmangu. (KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)

Menurut Titis, jumlah kunjungan ke setiap tempat wisata yang ada di Kabupaten Karanganyar, terutama Kecamatan Ngargoyoso dan Tawangmangu bisa dibilang sangat sedikit atau bahkan hampir tidak ada.

“Pengunjungnya sangat minim. Paling ada dua orang, 20 orang. Karyawannya 40, pengunjungnya sehari hanya dua,” ujar Titis.

Maka dari itu, ditutup atau tidaknya tempat wisata selama periode Jateng di Rumah Saja ini bisa dibilang tak akan memberi pengaruh yang berarti pada usaha penekanan penyebaran COVID-19.

Apalagi di masa pandemi ini, kata Titis, banyak sekali yang perlu dibiayai dan ditangani agar pencegahan penyebaran COVID-19 bisa lebih maksimal.

“Tapi tempatnya itu bukan di sektor pariwisata. Karena itu tadi (tidak ada pengunjung). Enggak usah dipikir atau diurus karena enggak ada orang berwisata,” imbuh Titis.

Reaksi pelaku usaha pariwisata

Menanggapi gerakan ini, banyak pelaku usaha pariwisata yang merasa cukup jengkel, khususnya terhadap berbagai pembatasan di sektor pariwisata.

Menurut Titis, banyak pelaku usaha pariwisata yang mulai jengkel karena seakan terus menerus dikaitkan dengan penyebaran COVID-19.

Halaman
12