Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Para Peneliti Sebut Misteri Petir Terbalik Mungkin Bukan Fenomena Aneh, Mengapa Demikian?

Penulis: Ratna Widyawati
Editor: Sinta Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi Kilat dan Petir

TRIBUNTRAVEL.COM - Dari semua fenomena cuaca yang terjadi di Bumi, petir adalah salah satu yang paling spektakuler dan misterius.

Para ahli pun berusaha memahami dan mendeskripsikan petir yang terjadi di langit.

Salah satu jenis petir sangat aneh dan langka pernah terjadi pada tahun 1990.

Saat itu para peneliti mengidentifikasi gerakan 'mirip roket' yang khas dalam rekaman video dari Pesawat Ulang-alik NASA tahun sebelumnya.

Baca juga: 4 Misi Luar Angkasa di Tahun 2021, Bawa Astronaut Wanita ke Bulan untuk Pertama Kalinya

Dan belakangan dikenal sebagai 'jet biru', garis-garis itu sekarang dikenali sebagai kilatan cahaya cemerlang yang berlangsung hanya beberapa ratus milidetik,s aat kilat melesat ke atas dari awan menuju stratosfer.

Melansir laman Science Alert, Jumat (22/1/2021), Sebuah instrumen kapal yang diletakkan 400 kilometer di atas planet Bumi ini telah mengamati kilatan misterius dari petir terbalik ini.

Setelah dipasang pada 2018, sebuah observatorium Stasiun Luar Angkasa Eropa yang dilengkapi dengan sensor optik, fotometer dan detektor untuk gamma dan radiasi X telah merekam lima kilatan biru dari atas awan badai, salah satunya diakhiri dengan semburuan jet biru tinggi ke startosfer.

Sebuah jet biru difoto di Hawaii. (Observatorium Gemini / AURA / Wikimedia Commons )

Penemuan langka ini memberikan beberapa wawasan berharga tentang permulaan pelepasan misterius, menurut tim peneliti yang dipimpin oleh fisikawan Torsen Neubert dari Universitas Teknik Denmark.

Jet biru diperkirakan dimulai ketika puncak awan bermuatan positif bertemu dengan lapisan muatan negatif di batas awan dan lapisan udara di atasnya.

Hal ini diperkirakan menghasilkan gangguan listrik yang membentuk saluran konduktif tak terlihat dari udara terionisasi di sepanjang perjalanan petir.

Namun, pemahaman tentang sumbu jet biru sangat terbatas.

Di sinilah data yang dianalisis oleh Neubert dan timnya mengisi kesenjangan.

Pada 26 Februari 2019, observatorium Atmosphere-Space Interactions Monitor (ASIM) mencatat lima kilatan biru, masing-masing sepanjang sekitar 10 mikrodetik di puncak badai, tidak jauh dari pulau Nauru di Samudra Pasifik.

Salah satu kilatan ini menghasilkan pancaran biru, mencapai stratopause - antarmuka antara stratosfer dan ionosfer, pada ketinggian sekitar 50 hingga 55 kilometer (sekitar 30 hingga 34 mil).

Selain itu, observatorium merekam fenomena atmosfer yang disebut ELVES (kependekan dari Emisi Cahaya dan gangguan Frekuensi Sangat Rendah karena Sumber Pulsa Elektromagnetik).

Halaman
12