Dengan demikian, hujan es dengan batu es yang berbentuk kembang kol terbentuk. Secara ilmiah, bentuk ini disebut sebagai bentuk struktur lobus cusped.
Hujan es terbentuk melalui kondensasi uap air lewat pendinginan di atmosfer pada lapisan di atas titik beku (freezing level) nol derajat celsius.
Saat batu-batu es terbentuk mulai dari bagian tengah awan sampai pada lapisan atas awan (top cloud) itu tidak semuanya mencair ketika turun ke lapisan yang lebih rendah, meskipun suhu relatif hangat.
Terkadang, hujan es dapat disetai dengan angin kencang, bahkan puting beliung yang berasal dari jenis awan cumulonimbus bersel tunggal ataupun berkelompok yang tumbuh secara vertikal di daerah yang tropis.
Penjelasan BMKG
Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, hujan es pada dasarnya merupakan fenomena alami dan dapat terjadi di negara mana pun.
Menurutnya, hujan es dapat terjadi dalam dua kondisi, yakni pada masa pancaroba yang disertai angin kencang, dan pada saat hujan dengan perbedaan suhu yang besar dalam satu hari.
"Ketika pada masa pancaroba, terjadi hujan dengan perbedaan suhu besar disertai angin kencang, hal ini meningkatkan potensi terbentuknya awan cumulonimbus," ujar Hary.
Ia menambahkan, awan jenis cumulonimbus mengandung lebih banyak air dalam bentuk padat daripada cair.
Oleh karena itu, hujan yang turun bisa dalam bentuk padat.
Salju
Namun, hal ini berbeda dengan fenomena turunnya salju.
Sebab, salju hanya bisa terjadi di wilayah lintang lebih dari 23,5 derajat.
Selain itu, Hary mengatakan bahwa hujan es memiliki durasi lebih singkat daripada salju karena hujan es dipengaruhi oleh intensitas hujan.
Baca tanpa iklan