TRIBUNTRAVEL.COM - Pertengahan tahun saat musim panas tiba, tepatnya pada bulan Agustus menjadi puncak musim buah-buahan di Jepang.
Biasanya banyak supermarket menjual aneka buah musim panas yang cukup sulit ditemukan.
Harganya pun tentu lebih mahal dari biasanya.
Buah kelas atas bisa dijual lebih dari 100 USD atau sekitar Rp 1,4 jutaan dengan kurs rupiah per 19 Juli 2020.
Sementara buah-buah lain pada umumnya seperti apel dan pir harganya berkisar 2 hingga 3 dolar.
Meski harga buah di Jepang mahal, namun buah menjadi bagian penting dari budaya makanan di Jepang.
Menurutmu, buah apa yang paling banyak di konsumsi di Jepang?
Dikutip TribunTravel dari laman Soranews (19/7/2020), jawabannya adalah pisang.
Tak heran jika pisang jadi buah paling disukai di Jepang.
Selain karena mudah dimakan, kulitnya mudah dikupas, rasanya enak dan harganya pun terjangkau.
Jepang juga mengimpor 99 persen pisang dari luar negeri.
Jadi, hanya satu persen pisang yang benar-benar asli dari Jepang.
Pisang tersebut adalah Pisang Mongee (dibaca: "mon-gay").
Pisang Mongee adalah pisang yang sangat istimewa di Jepang.
Pisang Mongee hanya tumbuh di Prefektur Okayama dan berbuah dengan jumlah terbatas.
Biasanya hanya dijual sekitar 10 buah pisang per minggu.
Pantas jika satu Pisang Mongee harganya mahal, yaitu 650 yen atau sekitar Rp 90 ribu.
Meski harganya setara satu porsi steak di Indonesia, Pisang Mongee punya beberapa fakta unik, termasuk kulitnya yang bisa dimakan.
Pisang Mongee diproduksi di D&T Farm di Prefektur Okayama, Jepang bagian barat.
Biasanya pisang hanya tumbuh di daerah beriklim tropis, tetapi D&T Farms menggunakan metode yang disebut Freeze Thaw Awakening, teknik mengekstraksi dan mengimplementasikan DNA buah-buahan untuk menghasilkan spesimen yang mirip.
Inilah yang kemudian memungkinkan buah tropis tumbuh di iklim yang lebih dingin.
Pisang yang diproduksi dengan cara ini berhasil ditanam untuk pertama kalinya pada bulan November 2017.
Karena Pisang Mongee tumbuh dalam iklim non-tropis, mereka tidak memiliki predator alami.
Artinya tidak ada pestisida yang digunakan dan pisang Mongee pun ditanam secara organik.
Mereka lebih manis dari pisang biasa dengan kandungan 24,8 gram gula lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata pisang pada umumnya yaitu 18,3 gram.
Oleh karena itu Pisang Mongee juga bertekstur lebih lengket dan memiliki aroma yang jauh lebih kuat.
Mungkin itulah sebabnya mereka memberinya nama "Mongee", karena "mongee" adalah bahasa gaul Okayama yang artinya "luar biasa".
Kamu hanya bisa menemukan Pisang Mongee di Toko Pojok Buah Tenmanya Okayama, sebuah department store di Okayama.
Biasanya mereka mendapatkan satu kali kiriman pisang per minggu yang isinya hanya 10 pisang.
Pisang pada umumnya dikonsumsi saat sudah matang.
Sementara Pisang Mongee hanya siap dimakan setelah terlihat titik-titik cokelat pada kulitnya.
Pisang Mongee butuh waku sekitar dua hari setelah dipetik untuk siap dikonsumsi.
Baunya pun semakin kuat dan menggoda pada saat itu.
Kulitnya cukup tipis lembut dan dagingnya tebal sehingga terlihat aman untuk dimakan keseluruhan.
Jika dibandingkan kulit pisang lain, tekstur kulit pisang Mongee lebih lembut dan tidak berserat.
Rasanya pun tidak pahit atau bergetah saat dimakan.
• Viral di Medsos, Gunung Telomoyo Macet karena Dipadati oleh Pengunjung
• Cobain Resep Praktis Bumbu Swedish Meatballs Cream Sauce untuk Menu Makan Malam
• 5 Hotel Instagramable di Malang Raya Buat Staycation, Ada Nuansa Jepang hingga Pemandangan Gunung
• Fakta Unik Hinamatsuri, Perayaan untuk Kesehatan dan Kebahagiaan Anak Perempuan di Jepang
TribunTravel.com/rizkytyas