Akan tetapi banyak orang Barat dan negara-negara lainnya yang masih enggan memakan serangga.
Pakar lingkungan dan pertanian pun coba mengenalkan serangga sebagai hasil alam yang kaya mineral dan protein.
Meski Shinohara adalah pemakan serangga, dia tidak menganggap serangga sebagai makanan "opsi terakhir".
Sebaliknya, ia melihatnya sebagai makanan lezat yang harus disantap.
Contohnya ulat ngengat yang termasuk hama di Jepang karena merusak pohon sakura. Shinohara memandang ulat itu sebagai makanan ringan.
"Mereka benar-benar lezat. Rasanya seperti manis lembut khas Jepang."
"Ulat itu hanya memakan daun pohon sakura, jadi mereka beraroma."
Dia juga menyukai ulat lainnya, termasuk beberapa yang katanya berasa jeruk dari pohon tempatnya berkembang biak.
"Di balik rasanya, bisa dibayangkan bagaimana ulat menikmati hidupnya. Itu sangat menakjubkan"
Bir jangkrik dan teh ulat sutera
Shinohara dan timnya berencana membuka restoran makanan serangga bernama Antcicada di pusat kota Tokyo pada April, tapi terpaksa tertunda karena pandemi virus corona.
Sebagai gantinya, mereka membuat sebungkus ramen jangkrik yang dapat dimasak di rumah. Produk ini laku 600 bungkus sampai pertengahan Mei.
"Syukurlah, batch terbaru habis terjual dalam tiga jam atau lebih," kata Shinohara.
Timnya juga bereksperimen dengan berbagai makanan lainnya, termasuk lauk serangga populer di Jepang yang disebut tsukudani. Biasanya dibuat dari makanan laut, daging, atau rumput laut yang direbus dalam kecap.
Ayumu Yamaguchi spesialis fermentasi tim tersebut bertugas mengawasi pengembangan eksperimen makanan.
Baca tanpa iklan