Jumah pengunjung malam lebih besar ternyata dari siang.
Wadah interaksi
Menurut Amron, pihaknya mengubah lahan 8.000 meter persegi ini menjadi Park and Food karena ingin memberikan wadah bagi masyarakat, untuk berinteraksi sekaligus dapat menjajal kuliner yang tersedia.
Bahkan beberapa komunitas pun bisa memanfaatkan taman ini untuk berekspresi.
"Kita lebih ke welcome kolaborasi, makannya siapapun bisa memanfaatkannya. Bahkan nanti kita juga ingin hadirkan acara komedi dan literasi di sini. Jadi konsepnya lebih ke milenial," katanya.
Secara kategori, Amron menyebut jika makanan yang dihadirkan di Park and Food Thamrin 10 terdapat makanan Nusantara seperti soto, batagor, dan juga beberapa makanan kekinian.
Meski baru 54 tenant yang tersedia, dia tak menampik jumlahnya akan ditambah.
"Kemungkinan bisa ditambah.lahan ini sendiri bisa lah menampung 100 tenant.mMlah nanti bisa double dacker ke atas," katanya.
Walau berdeketan dengan lokasi kuliner Sabang 5, Imron menyatakan rencana ke depan dua pusat kuliner ituakan digabung , sehingga para pedagang yang ada di Sabang 5 pindah dan tidak merasa dirugikan.
"Kalo dirugikan nggaklah, karena sebagian dari mereka juga ada yang gabung ke sini. Bahkan ke depan kan kita juga akan buka pagarnya, jadi customer bisa ke sana dan ke sini," katanya.
Park and Food Thamrin 10 ini mengunakan sistem pembayaran nontunai (cashless), menggunakan JakCard, JakLingko dan JakOne Mobile. Jakcard sendiri tersedia di salah satu kedai dengan harga Rp. 20.000.
Kawasan ini akan beroperasi mulai pukul 10.00 hingga pukul 22.00. Pada akhir pekan beroperasi hingga pukul 24.00.
Senang
Deri (27), yang sedang berkunjung ke Park and Food Thamrin 10, menyatakan gembira dengan hadirnya tempat ini.
"Kalo saya bagus sih, karena selain jadi tempat nongkrong di pusat kota ya karena ada di Thamrin, juga bisa jadi tempat Instagramable ya, walau sekarang belum lengkap. Yakin jadi spot menarik," kata Deri.
Baca tanpa iklan