Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

HUT 263 Jogja

Sejarah Nama Malioboro di Yogyakarta, Benarkah dari Nama Penjajah?

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Palang jalan Malioboro

Mereka masing-masing dikumpulkan menjadi satu pasukan tersendiri, yang terdiri dari orang-orang  Bugis atau Daeng, serta merupakan suatu kesatuan tempur sendiri.  

Setelah damai orang-orang itu ingin tetap tinggal ditanah Jawa.

Konon pasukan Wirabraja juga terdiri dari serdadu-serdadu Belanda yang telah menyerah dan tertawan, dan kemudian dijadikan semacam “stoottroep" atau pasukan tempur.

Tempat-tempat  kediaman masing-masing pasukan itu kemudian disebut Wirabrajan Daengan, Ketanggungan, Patang Puluhan dan Bugisan.

Jadi akhiran “an” di sini menunjukan tempat.

Tiga pasukan diberi tempat tinggal di sebelah Selatan beteng kraton, masing-masing Mantrijero, Jagakarian dan Pawiratama.

Jadi tempat kediaman mereka disebut Mantrijeron, Jagakarian dan Pawirataman.

Dua pasukan lainnya ditempatkan di sebelah Timur sungai Code, yaitu pasukan Nyutra dan Surakarsan.

Semua anggauta pasukan itu diperkenankan tinggal di tempat masing-masing  dengan sanak keluarganya hingga turun-temurun.

Enggan nama baru

Nama-nama baru yang kedengarannya tak cocok untuk telinga orang Jogya, umumnya tak laku.

Sebagai contoh misalnya Jl. Pangurakan (dari urak = surat perintah bergiliran piket di Keraton) yang diganti dengan nama Jl. Trikora.

Meskipun papan namanya dipancang sampai sekarang, namun tak seorang tukang becak yang tahu, di mana jalan itu.

Tetapi kalau orang mengatakan Jl. Pangurakan, maka tukang becak tak akan keliru.

Begitu pula dengan jalan Judanegaran, yang sejak adanya  Dwi Komando rakyat (Dwikora) diganti dengan nama tersebut.

Halaman
1234