Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

5 Fakta di Balik Rangkaian Ritual Yadnya Kasada Gunung Bromo

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Beberapa warga Suku Tengger mencoba menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam Kawah Bromo oleh penganut Hindu Tengger, saat Yadnya Kasada digelar pada 20-21 Juli 2016.

Sesaji yang dilarung ke Kawah Bromo diperebutkan oleh puluhan orang usai dukun, tokoh masyarakat dan warga Suku Tengger memanjatkan doa meminta keselamatan, keberkahan dan kesejahteraan.

Sebelum sesaji dilempar, jajanan dan makanan beserta lauk-pauknya diletakkan di bibir kawah. Di atas makanan tersebut, dupa ditancapkan dan dinyalakan.

Saat sesaji dilemparkan ke dalam kawah, beberapa orang turun ke lereng kawah yang labil.

Mereka bertaruh nyawa untuk menangkap sesaji yang dilemparkan dari bibir kawah.

Mereka telah menyiapkan sejenis jaring dan bahkan membentangkan terpal agar sesaji bisa ditangkap.

4. Tetap dilakukan tanpa kompromi

Ritual Yadnya Kasada akan terus dilestarikan, apa pun kondisinya.

Warga percaya bahwa ritual di Gunung ini tetap harus dilakukan meski status gunung sedang waspada, erupsi, turun hujan deras maupun angin kencang.

Di pelaksanaan Yadnya Kasada tahun 2019 ini Gunung Bromo dalam status Level II Waspada. Humas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Sarif Hidayat menyebutkan pelaksanaan upacara tetap dilaksanakan karena merupakan adat.

"Ya tetap dilaksanakan karena itukan ritual kasodo ya larung ke kawah bromo.. itu tradisi ritual adat mereka yg sudah di laksanakan turun menurun," ujarnya pada KompasTravel, Kamis (18/07/2019).

5. Dilaksanakan setahun sekali dan berdasarkan Kisah Roro Anteng dan Joko Seger

Warga luar Suku Tengger menangkap dengan jaring sesaji yang dilemparkan warga Tengger ke dalam kawah Gunung Bromo dalam puncak perayaan Yadnya Kasada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (21/7/2016). Perayaan Yadnya Kasada sebagai ritual penghormatan leluhur dan wujud terima kasih warga Tengger atas hasil bumi tetap dilakukan walaupun Gunung Bromo berstatus Waspada. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo digelar setahun sekali setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu Tengger.

Upacara sesembahan atau sesajen ini adalah untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur, terutama Roro Anteng dan Joko Seger.

Dikutip dari Kompas.com (22/07/2016) Supoyo, Ketua Adat Suku Tengger mengisahkan cerita legenda Gunung Bromo yang dipercaya masyarakat Tengger bahwa Raden Kusuma, putra bungsu dari Jaka Seger dan Lara Anteng, bersedia dilempar dan dikorbankan ke kawah Bromo.

Syaratnya, setiap malam bulan purnama tanggal 14-15 malam purnama bulan Kasada, dia meminta hasil bumi untuk dilempar ke kawah Bromo.

Halaman
123