Selain itu yang tak kalah unik, tersedianya aneka sate yang juga bisa digoreng atau di bakar.
Mulai sate ampela, sate usus, dan sate kulit.
Hmm... menggugah selera bukan?
Bagi pecinta sambal, sambal pecel lele di sini diolah oleh Hendrik di warungnya langsung.
Kamu bisa memesan tingkat kepedasan sambal, apakah tidak pedas, sedang, ataupun paling pedas.
"Bisa minta, kalau langganan biasanya bilang 'sambalnya paling pedas cak'."
"Buat yang gak pedas kan pake adonan tomat biasa, kalau sedang ada cabenya," tuturnya sembari mengulek sambal pesanan pelanggan.
KompasTravel pun mencicipi menu lele goreng, ayam bakar, dan sate kulit juga ampela.
Tak ketinggalan sambal pecel dengan tingkat sedang melengkapi menu tersebut.
Saat dicoba, sate kulit ayam memang dibuat kering, lebih cocok digoreng dibanding bakar.
Lelenya berukuran sedang (20 centimeter) dan digoreng garing, tidak berlendir.
Nah, saatnya menyecap hidangan bakar, andalan pecel ini.
Bumbu bakarnya terasa gurih sedikit manis saat disesap.
Sedang daging ayamnya si seperti biasa, layaknya ayam potong yang di bakar.
Winarti (56), warga Jalan Tongtek, seorang langganannya mengatakan ia memang sering makan di Pecel Lele Cak Hendrix.
Ia suka dengan hidangan lele bakar yang disajikan di sini.
"Menu bakarnya mas yang ramai."
"Kalau goreng-goreng mah di depan rumah saya juga ada."
Baca tanpa iklan