TRIBUNTRAVEL.COM - Pertempuran dahsyat 10 November 1945 di Surabaya, menyimpan cerita kelam sekaligus membanggakan, dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Banyak versi mengenai jumlah korbannya, tetapi ribuan orang dipastikan tewas dalam perang yang berlangsung lebih kurang satu bulan itu.
Itu bermula dari kedatangan tentara Sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) ke Surabaya, untuk melucuti senjata tentara Jepang.
Mereka kemudian bermarkas di Hotel Yamato di Jalan Tunjungan Surabaya, yang kini berubah nama menjadi Hotel Majapahit.
Tanpa seizin arek-arek Surabaya, AFNEI justru mengibarkan bendera Belanda yang berwarna merah, putih, dan biru pada 18 September 1945.
Itu menyulut kemarahan pemuda sehingga mereka berkumpul untuk menurunkannya.
Perundingan yang dilakukan pemuda dengan tentara Belanda tak membuahkan hasil.
Bahkan seorang Belanda bernama Ploegman tewas dicekik oleh pemuda bernama Sidik.
Sidik kemudian tewas akibat diberondong peluru.
Mendengar suara tembakan, pemuda lainnya langsung ke luar dari hotel.
Tiga orang di antaranya, yakni Hariyono, Sudirman dan Kusno Wibowo berhasil merobek warna biru pada bendera yang dikibarkan Belanda.
Setelah hanya berwarna merah putih, mereka kemudian mengibarkannya lagi.
Peristiwa bersejarah tersebut ternyata berhasil diabadikan oleh fotografer Antara, Abdul Wahab Saleh.
Namun kala itu, kantor berita Antara masih bernama Domei.
Sangat sedikit catatan yang menjelaskan siapa Abdul Wahab Saleh.
Baca tanpa iklan