Breaking News:

Tradisi Lebaran Unik di Indonesia, Ada Perang Topat di Lombok hingga Ngejot di Bali

Ada tradisi membakar sabut kelapa hingga tembak meriam untuk mengusir kuntilanak. Bagaimana dengan tradisi unik lebaran di daerahmu?

TRIBUNJOGJA.COM / Bramasto Adhy
Ilustrasi: Pemudik melintasi Jalan Wates, Yogyakarta, Minggu (10/6/2018). Memasuki H-5 Lebaran, arus mudik mulai meningkat. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Tak banyak yang tahu jika sejumlah wilayah di Indonesia ini memiliki tradisi seunik ini.

Ada tradisi membakar sabut kelapa hingga tembak meriam untuk mengusir kuntilanak. Bagaimana dengan tradisi lebaran di daerahmu?

Hari Raya Idul Fitri, ini 8 tradisi lebaran unik di Indonesia, dari lempar ketupat hingga tradisi usir kuntilanak.

Masyarakat Muslim baru saja merayakan hari lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H jatuh pada 13 Mei 2021.

Sedikit berbeda, Hari Raya Idul Fitri 2021 dirayakan di tengah pandemi virus Corona.

Masyarakat diimbau tidak mudik dan menghindari kerumunan.

Baca juga: Libur Lebaran 2021, Taman Margasatwa Ragunan Batasi Jumlah Pengunjung Hanya 30 Persen

Baca juga: Viral di Medsos, Penjual Sate Tak Mau Dibayar Uang Kertas Rp 75 Ribuan, Dikira Uang Mainan

Selain itu, masyarakat disarankan melaksanakan sholat Ied di rumah.

Padahal, Indonesia memiliki sejumlah tradisi lebaran unik yang dapat dilaksanakan apabila tak ada pandemi virus Corona.

Berikut delapan tradisi seru yang biasa dilakukan umat Islam di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

1. Kenduri Kuburan di Aceh

Mulai dari Aceh, Indonesia memiliki ragam tradisi menyambut Lebaran.

Kota berjuluk Serambi Mekah itu telah turun temurun melakukan tradisi Kenduri Kuburan.

Tradisi ini biasa dilakukan oleh warga Desa Pasi, Kabupaten Aceh Barat di hari ke-12 setelah perayaan Idul Fitri.

Perayaannya, warga desa akan melakukan ziarah dan makan kenduri bersama di lokasi pemakaman keluarga.

Warga biasanya akan membawa hidangan nasi dan aneka kue khas Aceh untuk dimakan bersama usai rangkaian acara ritual.

Seperti dikutip dari Serambinews.com, ziarah kubur anggota keluarga dengan menggelar acara kenduri di pemakaman merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan setelah Idul Fitri, di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), juga sebagian wilayah pantai barat-selatan Aceh.

Jadwal kenduri kuburan atau kenduri jirat dilaksanakan sesuai keputusan rapat warga desa, biasanya dimulai pada hari ketujuh lebaran (Idul Fitri) sampai memasuki hari belasan lebaran.

2. Malaman di Lampung

Bergeser ke ujung selatan pulau Sumatera tepatnya di Lampung, terdapat tradisi Malaman.

Tradisi ini dilakukan pada malam takbir, sehari menjelang Idul Fitri.

Anak-anak dan remaja laki-laki akan menyusun batok-batok kelapa di halaman rumah hingga setinggi satu meter bahkan lebih.

Di Lampung menjelang Lebaran, akan banyak batok kelapa yang tak terpakai sisa memasak rendang.

Sering disebut juga 'Menara Sabut Kelapa', susunan batok kelapa itu kemudian dibakar hingga api tampak membesar dan anak-anak akan bergembira.

Waktu yang biasanya dibutuhkan untuk membakar semua sabut kelapa itu adalah 60 menit.

Ketika sudah terbakar habis, sabut kelapa hanya menyisakan bara yang memerah berserakan di tanah.

Zaman dulu, orang banyak menggunakan bara tersebut untuk menyetrika baju baru yang dipakai saat Lebaran.

Baca juga: 5 Hotel di Solo yang Tawarkan Paket Halal Bi Halal, Harga Mulai dari 65 Ribuan

Baca juga: Antisipasi Arus Balik Mudik Lebaran 2021, Kemenhub Siapkan Dua Rencana Ini

3. Sungkem Telompak di Magelang

Tradisi berikutnya yaitu berada di pulau Jawa tepatnya di Magelang, Jawa Tengah.

Tradisi ini bernama Sungkem Telompak yang mana diikuti masyarakat lereng barat Gunung Merbabu.

Orang-orang melakukan tradisi sebagai bentuk syukur atas ketersediaan air di mata air Telompak, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Selain itu, mereka juga menggelar kesenian tradisional 'Campur Bawur' di mata air usai berdoa dan memasang sesaji.

Ritual ini dipimpin oleh seorang juru kunci.

Airnya yang melimpah membuat warga dapat bertahan menghadapi krisis tersebut.

Warga pun mengucap rasa syukur atas kelimpahan air tersebut melalui cara tradisi Sungkem Telompak.

4. Ngejot di Bali

Umat Islam yang ada di Bali, akan mengadakan tradisi Ngejot pada hari raya Idul Fitri.

Nyama Selam, sebutan untuk saudara dari kalangan Muslim di Bali akan memberi hidangan pada tetangga tanpa peduli latar belakang agama dan lainnya.

Umat Hindu pun membalas kebaikan tersebut dengan cara memberi makanan pada tetangganya pada hari raya Nyepi atau Galungan.

5. Perang Topat di Lombok

Bergeser ke Timur sedikit yaitu Lombok, Nusa Tenggara Barat, umat Islam mengadakan tradisi Perang Topat pada saat Idul Fitri.

Tradisi ini, para warga akan saling melempar ketupat usai berdoa dan berziarah di Makam Loang Baloq, kawasan pantai Tanjung Karang serta makam Bintaro, kawasan pantai Bintaro.

Orang setempat percaya bahwa melempar ketupat akan mengabulkan doa. Tradisi ini juga merupakan simbol kerukunan umat Hindu dan Islam di Lombok.

6. Tumbilatohe di Gorontalo

Tanah Sulawesi juga memiliki tradisi pada saat Idul Fitri yaitu Tumbilatohe, tepatnya di Gorontalo. Tradisi ini identik dengan lampu yang dipasang sejak tiga malam terakhir menjelang Idul Fitri.

Awalnya, hal ini dilakukan untuk memudahkan warga memberi zakat fitrah pada malam hari. Pada saat itu, lampu terbuat dari damar dan getah pohon.

Kemudian, seiring perkembangan zaman, lampu diganti dengan minyak kelapa dan kini minyak tanah.

Tradisi Tumbilatohe sudah berlangsung sejak abad ke-15. Masa sekarang, lampu yang dipasang lebih beragam bentuk dan warnanya.

Selain itu, lampu juga dipasang di luar rumah seperti tempat umum hingga area sawah.

7. Meriam Karbit di Pontianak

Pulau Kalimantan tepatnya di Pontianak, Kalimantan Barat juga memiliki tradisi menyambut hari Lebaran. Umat Islam di Pontianak akan mengadakan festival Meriam Karbit.

Uniknya, festival ini sudah menjadi ajang perlombaan tahunan ketika Lebaran.

Menurut ceritanya, meriam karbit digunakan untuk mengusir kuntilanak dengan cara menembakkannya

Festival Meriam Karbit diadakan di tepi sungai Kapuas dengan menghadirkan sejumlah meriam warna-warni.

Pemenang lomba Meriam Karbit biasanya dinilai dari meriam yang paling kompak bunyinya.

Menurut catatan Kompas.com (6/7/2016), untuk membuat meriam karbit dibutuhkan biaya sekitar 15-30 juta.

8. Tradisi Hadrat di Kaimana, Papua

Ujung Timur Indonesia, terdapat tradisi untuk merayakan Idul Fitri yang tak kalah menarik. Nama tradisi itu adalah Tradisi Hadrat yang biasa dilakukan di Kaimana, Papua Barat.

Warga setempat akan bersilaturahmi hadrat berkeliling kota dengan cara menari diiringi lantunan shalawat dan musik hadrat.

Tradisi ini biasa dilakukan pada hari kedua Idul Fitri. Uniknya, tak hanya umat Islam Kaimana saja yang berpartisipasi, umat Kristiani pun ikut serta memeriahkan tradisi.

Mereka ambil bagian dalam rombongan musik dan memainkan alat musik Tifa.

Baca juga: Resep Opor Ayam Gurih, Kuliner Lezat Khas Lebaran untuk Teman Makan Ketupat di Rumah

Baca juga: Viral Pasutri Mudik Jalan Kaki Gombong-Bandung Sejauh 279 KM, Ini Faktanya

Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Tradisi Lebaran Unik di Indonesia, Bakar Sabut Kelapa hingga Tembak Meriam Usir Kuntilanak

Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved