Breaking News:

BMKG Peringatkan Maskapai Penerbangan Waspada Potensi Awan Cumulonimbus di Wilayah Ini

BMKG imbau seluruh maskapai penerbangan waspada terhadap potensi awan Cumulonimbus di wilayah-wilayah ini.

Editor: Nurul Intaniar
Flickr.com/weathermanradomIkuti
Ilustrasi penampakan awan Cumulonimbus 

TRIBUNTRAVEL.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan seluruh maskapai penerbangan waspada terhadap adanya awan Cumulonimbus (Cb).

Awan Cumulonimbus dinilai menjadi salah satu penyebab tingginya curah hujan.

Banjir di Jakarta dan Bekasi juga menjadi salah satu dampak bencana hidrometeorologi dari pembentukan awan ini.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG Edison Kurniawan dalam konferensi pers daring bertajuk Banjir Jabodetabek dan Prospek Cuaca Jabodetabek Sepekan ke Depan, Sabtu (20/2/2021).

Menurut Edison, dalam empat hari ke depan, diperkirakan ada potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah di Indonesia dan harus diwaspadai oleh maskapai penerbangan.

"Kita melihat di berbagai daerah masih cukup berpotensi (tumbuh awan Cumulonimbus)," kata Edison.

Baca juga: Maskapai Ini Longgarkan Aturan Masker Bagi Penumpang Kelas Bisnis dan Kelas Satu

Ilustrasi - Pesawat terbang di landasan pacu.
Ilustrasi - Pesawat terbang di landasan pacu. (Flickr.com/ Bernal Saborio)

Berdasarkan analisis dan prediksi BMKG, saat ini secara umum masih berpotensi tinggi terjadinya pembentukan awan-awan Cumulonimbus yang dapat membahayakan penerbangan.

Sehingga diprediksikan, awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75 persen Occasional (OCNL) 21-23 Februari 2021 diprediksikan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Di antaranya sebagai berikut.

  • Sebagian Sumatera Barat
  • Sebagian Banten
  • Sebagian barat Jambi
  • Sumatera Selatan
  • Bengkulu
  • Lampung
  • Sebagian Sumatera Utara
  • Sebagian Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Sebagian Kalimantan Tengah
  • Sebagian Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
  • Sebagian Kalimantan Selatan
  • Sebagian Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Selatan bagian barat
  • Maluku
  • Sebagian Gorontalo
  • Sebagian Papua
  • Laut Bali
  • Laut Jawa Pesisir Selatan
  • Selat Sunda
  • Laut Sumbawa
  • Laut Sawu
  • Laut Banda
  • Selat Makassar
  • Laut Sulawesi
  • Laut Maluku
  • Laut Halmahera
  • Teluk Cendrawasih
  • Perairan barat Papua Barat
  • Samudra Hindia barat daya Bengkulu hingga Nusa Tenggara Timur
  • Samudra Pasifik utara Papua
  • Sebagian Laut Arafuru

Sementara itu, waspada terhadap awan Cumulonimbus, yang dapat mengganggu penerbangan, dengan persentase cakupan spasial lebih dari 75 persen (FRQ/ Frequent) selama 4 hari ke depan diprediksi dan perlu diwaspadai terjadi di wilayah berikut.

  • Sebagian Jawa Tengah
  • Nusa Tenggara Barat
  • Samudera Hindia di Pulau Jawa
  • Selatan Nusa Tenggara

Oleh karena itu, BMKG terus mengimbau masyarakat dan semua pihak yang terkait dengan sektor transportasi untuk selalu meningkatkan kewaspadaannya terhadap cuaca signifikan atau potensi cuaca ekstrem beserta pertumbuhan awan Cumulonimbus ini.

Pertumbuhan awan Cumulonimbus masih dapat terjadi di puncak musim hujan, dengan waspada pada potensi tersebut diharapkan dapat mewujudkan keselamatan dalam layanan penerbangan.

"Nah, kita sudah berkoordinasi dengan seluruh pelaksana teknis kami yang ada di seluruh bandara, kita harapkan agar proses monitoring dapat terus dilakukan terkait kondisi cuaca yang saat ini terjadi," tegasnya.

Untuk mempercepat dan memperluas layanan informasi cuaca penerbangan, sejak 2018, BMKG menyampaikan update informasi prakiraan cuaca di seluruh bandara melalui aplikasi mobile phone Info BMKG, juga melalui layar-layar display cuaca di seluruh bandara.

Informasi dalam aplikasi Info BMKG tersebut meliputi informasi cuaca setiap jam hingga prediksi kondisi cuaca untuk empat jam ke depan.

Sedangkan informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca untuk area maupun rute penerbangan seperti Significant weather Chart (SIGWX) dan Significant Meteorological Information (SIGMET) dapat diakses dalam laman aviation.bmkg.go.id.

"Masyarakat dan semua pihak diminta untuk terus memonitor pemutakhiran informasi tersebut agar dapat lebih waspada dan memitigasi berbagai risiko yang dapat diakibatkan oleh kondisi cuaca," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan peluang pembentukan awan cumulonimbus yang bisa ganggu penerbangan.

Baca juga: Jepang Larang Maskapai Gunakan Pesawat Boeing 777 Bermesin Pratt & Whitney 4000, Ini Alasannya

Baca juga: Kerjasama dengan UNICEF, Maskapai Penerbangan Ini Bantu Distribusikan Vaksin Covid-19

Baca juga: Punya Pusat Distribusi Terbesar di Dunia, Maskapai Ini Ikut Salurkan Vaksin COVID-19

Baca juga: Unik! Maskapai Ini Sulap Suku Cadang Pesawat Lama Jadi Karya Seni Ramah Lingkungan

Baca juga: Etihad Airways Jadi Maskapai Pertama di Dunia yang Divaksinasi Penuh

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Waspada Awan Cumulonimbus Masih Berpeluang Tumbuh bisa Ganggu Penerbangan".

Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved