Breaking News:

Sempat Sepi, Kafe Bernuansa Kematian di Bangkok Ini Tiba-tiba Ramai Dikunjungi Wisatawan

Bukan sembarang kafe, ternyata menurut pengelola Kid-Mai Death, kafe itu ditujukan untuk pengunjung yang ingin meningkatkan kesadaran akan kematian.

Instagram/kid_mai.cafe
Ornamen tengkorak di KID-MAI Death Awareness Cafe 

"Rasanya nyaman, tapi saya nggak bisa tidur atau rileks di dalamnya karena saya merasa kayak mau mati. Kematian yang saya rasakan adalah perasaan ketika kamu berpikir akan kehilangan segalanya hari ini dan perasaan ketika kamu nggak bakal hidup lagi, nggak bisa melihat ibu dan ayah lagi," kata Tammy kepada CNN Travel sambil keluar dari peti mati di Kid-mai Death, Bangkok.

"Saya masih ketakutan. Sepertinya saya tidak mau di dalam sana lagi," imbuh Tammy lalu tertawa.

Meski diakui mendapat ketenangan, remaja itu tetap memikirkan sepinya sendirian dalam ruangan sempit itu.

Padahal, dia waktun itu dapat diskon dari pengelola kafe lantaran jadi pengunjung yang berani berbaring di dalam peti mati selama 3 menit dalam keadaan tertutup. "Tetep saya tidak mau melakukannya lagi," katanya.

Jadi tren pencari ketenangan dan obat stress di tengah pandemi

Masuk ke dalam peti mati ternyata menjadi minat bagi ratusan warga Thailand pada musim pandemi Covid-19 ini.

Menyadur dari National Post, pada laporannya di akhir Januari 2021 menyebut  tren masuk ke peti mati sambil memegang bunga tengah menjadi ritual bagi warga Thailand yang mencari ketenangan diri

Tak kurang dari 100 orang mengantre untuk ikut ritual kematian tersebut di Kuil Wat Bangna Nai di Bangkok  Thailand.

Mereka yang melakukan upacara kematian tersebut berhatap dapat meningkatkan keberuntungan dan mengurangi tekanan hidup selama masa pandemi ini.

"Saya harus mengakui bahwa saya stres belakangan ini karena penghasilan saya berkurang akibat pandemi dan saya yakin semua orang di sini juga merasakan hal yang sama," kata Nutsarang Sihard, peserta ritual berusia 52 tahun.

 

Usai mengikuti ritual tiduran di peti mati sambil memegang bunga dan ditutup selembar kain kafan, dia juga dinyanyikan lagu dari para bhiksu.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Grid.ID
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved