Breaking News:

Inilah Kisal Awal Mula Lahirnya Tas Aceh yang Kini Mendunia

Tas Aceh merupakan salah satu souvenir khas Aceh yang wajib dibeli jika berkunjung ke Aceh

Kompas.com/ MASRIADI
Tas Aceh di Desa Ule Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara 

Zainabon turut serta mengajak masyarakat untuk menganyam sajadah pesanan itu. "Saat itu waktu diberikan sangat singkat, (karena itu) saya mengajak warga untuk membantunya mengayam tikar pesanan," katanya. Baca juga: Wisata Banda Aceh, Lihat Monumen Pesawat RI 001 di Lapangan Blang Padang Pada tahun yang sama, Pemerintah Aceh mengirimnya untuk mengikuti festival di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari sana, Zainabon banyak belajar. Selama sebulan penuh Zainabon menimba ilmu bordir dengan segala macam kerumitannya. Sepulang dari Tasikmalaya, ia mulai mengembangkan tas motif Aceh yang kini dikenal luas hingga ke mancanegara.

Produk tas khas Aceh kian populer setelah tsunami melanda pada 2004 silam. Para warga negara asing (WNA) yang saat itu membantu rehabilitasi dan rekonstruksi suka dengan kerajinan tersebut. Dari situ lah tas kian dikenal luas ke mancanegara.

Seiring waktu, kerajinan ini terus berkembang. Setidaknya 17 unit usaha kini berada di desa itu. Tak kurang, 500 pengrajin terampil selalu menghasilkan beragam tas.

Salah seorang Pengrajin, Maryana, menyebutkan mulai bisnis kerajinan itu tahun 2006. Hingga kini, 50 pekerja berada di unit usaha miliknya.

Dulu, dia memulai dengan bermodal Rp 500.000 dan tiga pekerja. Kini, usaha itu semakin berkembang. Omzetnya bisa mencapai Rp 150 juta per bulan.

Dalam sehari, Maryana mengaku bisa memproduksi 150 tas. Pesanan itu tembus ke pasar internasional, seperti Kanada, Amerika Serikat, Malaysia, Spanyol dan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Kini, Maryana sadar, pengetahuan bisnisnya bukan sebatas miliknya. Tas Aceh makin mendunia. Oleh karena itu, ia beberapa kali memberikan pelatihan untuk pengrajin di Aceh Utara.

Kepala Desa Ulee Madon, Tgk Salahuddin AB mengapresiasi seluruh pengrajin di desanya. Dia tak henti-hentinya mengajak seluruh lembaga keuangan, lembaga sosial, dan pemerintah untuk bekerjasama dengan pengrajin desa itu.

Dia menyebutkan, pengrajin semakin sejahtera, sehingga mengurai angka pengangguran dan masalah sosial yang ditimbulkan.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Septi Nandiastuti
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved