Breaking News:

Proses Panjang Pembuatan Cokelat, dari Kebun hingga jadi Makanan Merk Ternama

Satu batang cokelat yang biasanya kamu nikmati di rumah ternyata sudah menempuh proses perjalanan sangat panjang.

businessinsider.com
Cokelat 

TRIBUNTRAVEL.COM - Satu batang cokelat yang biasanya kamu nikmati di rumah ternyata sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang.

Bagaimana proses perjalanannya?

Proses tersebut dijelaskan dalam sesi peluncuran virtual Pasuruan Cocoa Technical Center (PCTC) milik Mondelez International, Rabu (7/10/2020).

Mondelez International merupakan salah satu pembeli kakao terbesar di dunia lewat berbagai merek terkenal mereka seperti Cadbury Dairy Milk, Toblerone, dan Milka.

1. Pohon kakao

Pertama, cokelat berasal dari pohon kakao yang ditanam para petani. Sebagian besar pohon kako dunia tumbuh di kawasan yang berada di garis 10 derajat Lintang Utara dan Lintang Selatan dengan iklim tropis.

Sekitar 90 persen biji kakao dunia dipanen melalui pertanian kecil yang dikelola secara pribadi dengan luas lahan kurang dari dua hektar.

Rata-rata hasil panen hanya 600-800 kilogram per tahunnya.

Biji kakao sebenarnya berasal dari kawasan hutan Amazon.

Namun sekitar 70 persen produksi kakao dunia dihasilkan di Afrika Barat.

2. Penumbuhan pohon kakao

Pohon kakao kemudian membutuhkan waktu sekitar empat tahun sejak awal tumbuh hingga bisa menghasilkan buah.

Namun jika dirawat dengan baik, maka pohon bisa terus menghasilkan buah secara rutin hingga 30 tahun ke depan.

Buah kakao bisa matang dan siap panen dalam kurun waktu 175 hari sejak dari bunga.

Dalam proses penumbuhan, para petani berusaha untuk melindungi pohon dari angin dan terik matahari.

Mereka juga harus menjaga kesuburan tanah dan juga mengamati tanda-tanda penyakit.

Biasanya buah kakao berisikan 30-40 biji.

Diperlukan sekitar 400 biji yang telah dikeringkan untuk menghasilkan sekitar 450 gram kakao.

3. Proses panen

Setelah buah matang, para petani kemudian melakukan proses panen. Biasanya banyak negara yang memiliki dua kali masa panen, termasuk Indonesia.

Dua kali panen tersebut terdiri dari sekali panen utama dan sekali panen sampingan dengan hasil yang lebih kecil.

Petani kakao menggunakan alat bertuas panjang untuk meraih dan memetik buah. Alat tersebut berguna untuk menjaga bagian kulit pohon yang lembut agar tidak rusak.

4. Fermentasi dan pengeringan

Proses pasca-panen punya dampak paling besar pada kualitas dan juga rasa kakao.

Prosesnya termasuk petani memisahkan lebih dahulu biji kakao dari buahnya.

Mereka kemudian mengemasnya dalam kotak atau mengumpulkannya dalam tumpukan.

Setelah itu ditutup dengan kain atau daun pisang selama tiga sampai tujuh hari.

Dalam proses tersebut, lapisan pulp yang manis yang melapisi biji akan terfermentasi dan menghangatkan biji.

Hal itu akan berdampak pada menguatnya rasa kakao.

Biji selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari selama beberapa hari.

Ada banyak sekali variasi alami kakao.

Namun tiga varian paling utama adalah Criollo, Forestero, dan Trinitario yang paling lazim digunakan.

5. Penjualan kakao

Setelah dikeringkan, biji yang sudah siap kemudian dikemas dalam karung.

Petani akan menjual produknya pada pembeli.

Pihak pembeli yang kemudian akan menyimpan kakao dalam kemasan karung untuk diperiksa lebih lanjut kualitasnya.

Mereka mengemasnya dalam burlap, sisal, atau plastik untuk kemudian diangkut ke gudang.

Biji kakao kemudian disimpan sampai nanti dikirimkan ke produsen.

6. Pemrosesan biji kakao

Setelah dibeli oleh pembeli dan diteruskan ke produsen, biji kakao kemudian akan dibersihkan. Setelah itu biji dipanggang dan dikupas kulitnya.

Pemisahan kulit biji dari daging biji ini disebut sebagai proses winnowing.

Daging biji kakao kemudian diproses jadi pasta kakao (cocoa mass) lewat proses grinding atau penggilingan.

Lemak kakao (cocoa butter) bisa diperoleh lewat proses memeras pasta kakao atau biji utuh.

Selain lemak kakao murni, proses tersebut juga bisa menghasilkan bubuk kakao.

Pasta kakao biasanya digunakan oleh industri cokelat.

Digunakan untuk produksi bakery dan biskuit.

Sementara bubuk kakao biasa digunakan dalam minuman, bakery, biskuit, es krim, dan industri susu.

Lemak kakao juga biasa digunakan untuk produksi cokelat dan kosmetik.

Pasta kakao, bubuk kakao, dan lemak kakao merupakan tiga hasil produk kakao yang bernilai jual.

7. Resep cokelat

Setelah diproses entah menjadi pasta, bubuk, dan lemak, selanjutnya adalah mengolah kakao jadi produk cokelat sesuai resep.

Cokelat adalah produk yang dihasilkan melalui resep, diturunkan dari tradisi, serta memiliki cita rasa yang berkembang di berbagai negara.

Sama seperti kopi, tempat asal biji kakao akan menghasilkan profil rasa yang berbeda pula.

Cokelat hitam (dark chocolate) punya tingkat cokelat padat (cocoa solids) yang paling tinggi.

Hal itu menghasilkan rasa cokelat yang jauh lebih kuat.

Sementara cokelat susu (milk chocolate) terdiri dari bahan utama susu segar atau susu bubuk.

Kakao padat ini memberikan rasa yang bisa dibilang cukup “kaya”.

Jumlah kakao padat yang dimasukkan ke dalam resep beragam antar produsen dan brand.

Hal itu memberikan produk sebuah karakter rasa yang melekat.

8. Kreasi cokelat

Setiap produsen akan menggunakan resep mereka sendiri untuk menghasilkan produk cokelat andalan mereka.

Biasanya proses membuat cokelat ini mencakup proses mixing, pasting, refining, dan conching.

Setelah itu diterapkan proses tempering melalui tiga tahap, yaitu pemanasan, pendinginan, dan pemanasan ulang. 

Proses ini sangat penting untuk menghasilkan cokelat yang mengilap terang serta stabil.

Jika tidak melalui proses tempering, maka cokelat akan punya tekstur yang kasar.

Salah satu alasannya karena cokelat terdiri dari lemak dan gula.

Setelah proses tempering, barulah cokelat tersebut dibentuk jadi cokelat batangan, cokelat potongan kecil, atau beragam bentuk lainnya sesuai dengan produk yang ingin dipasarkan.

Beberapa negara memiliki regulasi khusus soal bahan apa saja yang bisa atau tidak bisa disebut sebagai cokelat.

Hal itu mengacu pada persentase kandungan kakao padat kering (dry cocoa solids).

Namun tidak termasuk kandungan lemak kakao (cocoa butter).

9. Tren cokelat

Setelah jadi produk, barulah cokelat aneka jenis tersebut dipasarkan.

Tren dan kesukaan cokelat setiap daerah berbeda.

Konsumen di Eropa contohnya lebih menyukai cokelat hitam.

Sementara cokelat susu lebih disukai di kawasan Asia Tenggara, Australia, dan New Zealand.

Baca juga: Resep Sambal Goreng Pepaya Muda, Menu Praktis untuk Makan Siang di Rumah

Baca juga: 6 Bakso Legendaris di Semarang Buat Menu Makan Siang, Mana yang Paling Kamu Suka?

Baca juga: Jangan Campur 2 Bumbu Tambahan Ini Saat Makan Bakso, Efek Jangka Panjangnya Berbahaya Bagi Tubuh

Baca juga: Resep Cheese And Beef Scrambled Egg, Cocok Jadi Menu Sarapan di Rumah

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bagaimana Perjalanan Cokelat dari Kebun hingga Jadi Makanan?"

 
Ikuti kami di
Editor: Rizky Tyas Febriani
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved