Breaking News:

Karang Memadu, Tempat Pengasingan Warga Desa Penglipuran yang Melakukan Poligami di Bali

Desa wisata Penglipuran di Bali memiliki satu tempat khusus untuk memberlakukan sanksi bagi warganya yang berpoligami, yakni Karang Memadu.

Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf
Desa Penglipuran yang berada di Bali masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia bersama tiga desa wisata di Indonesia lainnya. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Desa wisata Penglipuran di Bali memiliki sebuah hukum adat yang masih dipertahankan hingga kini.

Jika kamu berpikir untuk berpoligami, maka kamu tidak akan pernah bisa tinggal dan menjadi warga Desa Penglipuran.

Pasalnya, warga Penglipuran tidak diperbolehkan untuk berpoligami dan diharuskan menerapkan hidup monogami, yakni hanya boleh memiliki seorang istri.

Saat warga Desa Penglipuran nekat berpoligami, maka ia akan dikenakan hukum adat, yakni sistem Karang Memadu.

Karang Memadu merupakan hukuman atau sanksi yang akan dikenakan Desa Penglipuran terhadap warganya yang melakukan tindak poligami.

3 Desa Berpredikat Paling Bersih di Dunia, Satu di Antaranya Desa Penglipuran di Bali

Karang Memadu

Di sebelah selatan Desa Penglipuran Bali ada sebuah tempat yang dijuluki Karang Memadu.

Karang Memadu adalah lokasi khusus di Desa Penglipuran yang diperuntukkan kepada mereka yang beristri lebih dari satu.

Warga yang melanggar peraturan poligami akan dikucilkan di Karang Memadu.

Tidak hanya itu, mereka juga tidak diperbolehkan untuk bergabung dalam seluruh upacara adat, dilarang memasuki pura manapun serta dilarang melintasi perempatan desa di bagian utara.

Digunakan sebagai tempat memberlakukan sanksi, Karang Memadu terletak di lokasi yang cukup sulit dijangkau.

Untuk bisa sampai di Karang Memadu, warga harus berjalan cukup jauh.

TONTON JUGA:

Jalanannya pun sempit dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Memiliki luas sekitar 921 meter, tempat ini dianggap oleh masyarakat Penglipuran sebagai lahan leteh atau kotor.

Masyarakat tidak diperbolehkan untuk mengambil hasil tanaman sepertui pisang dan bunga-bunga yang tumbuh di areal ini untuk persembahyangan.

Menurut hukum desa, setiap pria yang berpoligami harus pindah ke Karang Memadu.

Orang yang ngemaduang (poligami), pernikahannya tidak disahkan oleh desa.

Upacara pernikahannya tidak diselesaikan oleh Jero Kubayan, pemimpin tertinggi dalam pelaksanaan upacara adat dan agama.

Akibatnya, si pelanggar pun dilarang bersembahyang di pura desa adat.

Dengan sanksi yang begitu keras, tampaknya tidak ada lelaki di Penglipuran yang berani berpoligami.

Festival Penglipuran Village (PVF) 2019, Desa Penglipuran, Bangli, Bali.
Festival Penglipuran Village (PVF) 2019, Desa Penglipuran, Bangli, Bali. (Dok. Kemenparekraf)

Proses penerapan sanksi Karang Memadu

Jika ada warga Penglipuran yang melanggar hukum adat tentang berpoligami ini, maka ia akan terkena sanksi dan dipindahkan ke Karang Memadu.

Proses penerapan sanksi karena poligami di Karang Memadu terdiri dari tiga tahap.

Pertama, si pelanggar dipanggil untuk mendengarkan pemaparan dari sejumlah prajuru adat terkait dengan aspek-aspek yang ada di dalam sanksi karang memadu yang akan diterimanya nanti.

Jika yang bersangkutan bersikukuh pada pendiriannya untuk berpoligami, maka prajuru adat akan melanjutkan ke tahapan yang kedua.

Tahapan kedua adalah pembuatan gubug untuk menempatkan keluarga yang berpoligami tersebut di sebuah areal yang bernama Karang Memadu.

Jika gubug telah selesai dibuat, maka akan dilanjutkan ke proses yang ketiga.

Tahapan terakhir, yakni penempatan keluarga yang berpoligami di gubug yang sudah dibuatkan oleh warga desa adat penglipuran di area Karang Memadu.

Desa Penglipuran di Bali Kembali Ditutup Setelah Sempat Dibuka Terbatas

Punya Koleksi Burung Terlengkap di Bali, Ini Harga Tiket Masuk Bali Bird Park per September 2020

3 Danau Indah di Bali yang Wajib Dikunjungi saat Liburan ke Pulau Dewata

Mengintip Keindahan Desa Wisata Pentingsari Jogja yang Mendunia

Mengenal Desa Wisata Wonokitri, Tempat Resmi Beli Bunga Edelweis di Kawasan Bromo

(TribunTravel.com/Ron)

Ikuti kami di
Penulis: ronnaqrtayn
Editor: ronnaqrtayn
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved