Breaking News:

Mengintip Kehidupan Para Sadhu, Orang Suci di India yang Tinggalkan Hal-hal Berbau Duniawi

Di India yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu, ada orang-orang suci yang disebut Sadhu.

Pixabay
Sadhu di India 

TRIBUNTRAVEL.COM - Dalam ranah spiritual dan reliji, ada tokoh-tokoh tertentu yang dianggap sebagai orang suci.

Di India yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu, ada orang-orang suci yang disebut Sadhu.

Dikutip TribunTravel dari The Culture Trip, sadhu terlihat cukup mencolok dengan pakaian berwarna serba oranye safron.

Wajah-wajah para sadhu ditandai dengan polesan abu suci dan memancarkan keterputusan dari sekelilingnya.

Sadhu telah ada di India dan dianggap orang paling suci dalam hal keyakinannya.

Sadhu juga merupakan pertapa yang berhasil melepas semua keterikatannya dengan masyarakat, muali dari materi, keluarga, maupun keinginan seksual.

50 Fakta Unik India, Negara yang Memberi Gaji Polisi Berdasarkan Kumis

Ini dilakukan untuk mencapai moksha, pembebasan diri secara total dari segala hasrat dan ketidaktahuan.

Di India, ada sekitar 4 hingga 5 juta Sadhu.

Para Sadhu mendapat inisiasi dari seorang guru dengan cara diberi nama baru.

Pemberian nama baru ini merupakan satu bagian dari proses menjadi seorang Sadhu.

Sadhu sangat dihormati masyarakat India dan kerapkali dimintai bimbingan maupun berkah.

Namun, karena tidak memiliki pendapatan, atau harta apapun termasuk tempat tinggal, mereka hidup dalam kemiskinan mutlak dan sepenuhnya bergantung pada kebaikan dan sumbangan orang untuk bertahan.

LIHAT JUGA:

Sadhu berasal dari beragam latar belakang sosial, ekonomi dan regional.

Sementara beberapa orang mungkin telah terpinggirkan dari masyarakat sejak usia yang sangat muda, banyak yang memilih menjadi Sadhu dan mengabaikan materi dan kredensial sosial pada usia yang cukup sepuh.

Satu contoh adalah Baba Ashutosh.

Ia dibesarkan dalam keluarga kaya raya di Varanasi, dan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi pada usia 21 tahun, ia memulai bisnis pemasarannya sendiri.

Baba Ashutosh (Souleyman Messalti)

Namun, kematian mendadak ayahnya enam tahun setelah itu membuat Baba merenungkan kembali tujuan hidupnya dan mempertanyakan struktur masyarakat yang ada saat ini.

Ia kemudian memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk spiritualitas, agama, dan disiplin diri yang ekstrem.

Sebagian besar pertapa Hindu dapat dikategorikan secara luas menjadi dua kelompok.

Pertama, Shaiva Sadhus, yang merupakan penyembah dewa Dewa Siwa, dan kedua, Waisnava Sadhus, yang mendedikasikan diri mereka untuk dewa Wisnu.

Namun, ada divisi dan subkelompok yang tak terhitung jumlahnya di dalam dan di luar kedua kelompok.

Meski begitu, cukup banyak praktik yang umum di antara mereka.

Baba Ashutosh (Souleyman Messalti)

Seperti menjalani kehidupan rahib, berpakaian dalam nuansa warna oranye dan merah, mempertahankan rambut dalam jatas atau gimbal, dan lainnya.

Bahkan meski beberapa praktik tetap standar di antara kebanyakan sadhu Hindu, masih banyak tradisi eksklusif untuk beberapa subkelompok Sadhu.

Misalnya, sekte Aghori yang penuh rahasia diketahui melumuri tubuh mereka dengan abu dari tempat kremasi Hindu, dan menggunakan tengkorak manusia sebagai mangkuk atau wadah sumbangan dari orang-orang.

Naga Sadhus, adalah pertapa tanpa busana yang biasanya tinggal di gua atau tempat yang jauh dari masyarakat.

Namun, Naga Sadhus muncul di tengah publik setiap beberapa tahun di Kumbh Mela, sebuah pertemuan peziarah keagamaan terbesar di dunia.

Kumbh Mela diadakan setiap 12 tahun di salah satu dari empat tempat ini; Haridwar, Allahabad, Nashik, dan Ujjain.

Baba Ashutosh di rumahnya (Souleyman Messalti)

Pertemuan tersebut dianggap telah terjadi dalam beberapa bentuk selama sekitar dua milenium, dan berfungsi untuk menyatukan semua Sadhu dari seluruh negeri.

Untuk menjadi Sadhu, langkah utama yang harus dilakukan seseorang adalah menemukan guru, biasanya seorang Sadhu yang dihormati dan menyatakan niat untuk memilih cara hidup pertapa ini.

Guru kemudian meminta individu yang tertarik menjadi Sadhu untuk melakukan guru seva (layanan kepada guru) selama jangka waktu tertentu.

Hal ini dapat mencakup segala macam tugas, mulai dari pembersihan hingga memasak.

Periode ini memungkinkan seorang guru untuk mengukur kompatibilitas individu dengan cara hidup yang berat ini, dan memutuskan apakah mereka memenuhi syarat.

Jika orang tersebut dianggap cocok, maka doa inisiasi dan upacara akan dilakukan, di mana kandidat Sadhu akan menerima nama baru.

Satu nama yang melepaskan kandidat Sadhu itu dari kehidupan sebelumnya.

(TribunTravel.com/Rizki A Tiara)

Ikuti kami di
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved