5 Fakta Unik Bacha Posh, Tradisi di Afghanistan untuk Membesarkan Anak Perempuan jadi Laki-laki

Praktik budaya Bacha Posh mendorong orang tua mendandani anak perempuan mereka sebagai putra untuk masa depan yang lebih baik.

5 Fakta Unik Bacha Posh, Tradisi di Afghanistan untuk Membesarkan Anak Perempuan jadi Laki-laki
Elles Osent
bacha posh, tradisi membesarkan anak perempuan jadi laki-laki di Afghanistan 

TRIBUNTRAVEL.COM - Pernahkah traveler mendengar istilah "Bacha Posh"?

Jika diterjemahkan secara harafiah, Bacha Posh artinya "wanita yang berpenampilan seperti laki-laki."

Istilah Bacha Posh sering digunakan di kawasan Afghanistan dan Pakistan.

Di sana, ada tradisi membesarkan anak perempuan sebagai anak laki-laki ketika mencapai pubertas.

Dalam artikel yang diterbitkan National Geographic, 2 Maret 2018 disebutkan, praktik budaya Bacha Posh mendorong orang tua mendandani anak perempuan mereka sebagai putra untuk masa depan yang lebih baik.

Berikut fakta unik Bacha Posh, tradisi membesarkan anak perempuan sebagai laki-laki di Afghanistan.

Fakta Unik Rendang, Kuliner Indonesia yang Masuk Daftar Makanan Paling Enak di Dunia

1. Meningkatkan status sosial.

Orang tua yang tidak memiliki anak laki-laki biasanya memilih mengubah putrinya menjadi Bacha Posh untuk meningkatkan status sosial mereka.

Bacha Posh diperlakukan seperti anak laki-laki pada umumnya dan melupakan identitas gender sebenarnya setelah berusia 17 tahun.

2. Dianggap melawan norma budaya dan peran gender.

Melansir dari Emirateswoman.com, Selasa (25/6/2018), di negara yang terkenal memiliki peran gender sangat ketat, cara ini mungkin dianggap melawan norma budaya.

Namun, praktik ini sudah lama tertanam dalam tradisi Afghanistan.

Membesarkan anak perempuan layaknya lelaki adalah hal yang sangat lazim dan banyak dilakukan.

3. Keluarga yang tak punya anak laki-laki dianggap lemah.

Bacha Posh lahir di masyarakat karena patriarkis Afghanistan yang memandang keluarga tanpa anak lelaki adalah kelompok lemah.

"Keluarga Afghanistan cenderung menginginkan anak laki-laki," kata dokter anak yang juga penulis 'The Pearl That Broke Its Shell'.

Zahra, 15 tahun, berpakaian seperti laki-laki sejak ia masih balita.
Zahra, 15 tahun, berpakaian seperti laki-laki sejak ia masih balita. (emirateswoman.com)

4. Alasan keluarga membesarkan anak perempuannya sebagai laki-laki.

Ada banyak alasan bagi keluarga Afghanistan 'menyamarkan' anak perempuan mereka sebagai laki-laki.

Menurut New York Times, beberapa di antaranya memiliki alasan latar belakang ekonomi.

Anak gadis yang dibesarkan sebagai laki-laki nantinya bisa bekerja di luar rumah.

Konon, tidak sulit membuat seorang anak perempuan menjadi seorang Bacha Posh.

Keluarga tinggal memotong rambutnya, ganti pakaiannya dengan pakaian pria khas Afganistan.

Tidak ada larangan hukum atau agama tertentu yang melarang praktik ini di Afghanistan.

5. Anak laki-laki lebih dihargai di Afghanistan

Hal ini karena budaya kesukuan hanya mengizinkan anak laki-laki yang boleh mewarisi kekayaan ayah dan mewariskan nama keluarga.

Keluarga tanpa anak laki-laki menjadi obyek belas kasihan dan penghinaan.

Mehran, seorang bacha mewah berusia tujuh tahun, berpose dengan saudara-saudara perempuannya.
Mehran, seorang bacha mewah berusia tujuh tahun, berpose dengan saudara-saudara perempuannya. (emirateswoman.com)

Bagi wanita Afghanistan, kebebasan memiliki arti yang sangat sederhana, yaitu untuk menghindari pernikahan yang tidak diinginkan dan dapat meninggalkan rumah.

Menjadi seorang Bacha Posh bagi anak perempuan adalah harga yang harus dibayar dengan kebebasan untuk belajar, memiliki profesi, dan menikah.

Namun, ketika mendapatkan kebebasan, selalu ada ketakutan identitas mereka akan ditemukan.

Sementara transisi kembali ke realitas dapat meninggalkan bekas luka psikologis.

TribunTravel.com/rizkytyas
Ikuti kami di
Penulis: Rizky Tyas Febriani
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved