Rekomendasi Wisata

Mengunjungi Museum Bank Mandiri di Jakarta, Belajar Perbankan Sekaligus Berburu Foto Instagramable

Hari itu saya ingin berkunjung ke Museum Bank Mandiri, yang terletak terletak di Jalan Lapangan Stasiun, Kelurahan Pinangsia, Jakarta Barat.

Mengunjungi Museum Bank Mandiri di Jakarta, Belajar Perbankan Sekaligus Berburu Foto Instagramable
Instagram/berry_priadi
Wisatawan di Museum Bank Mandiri 

TRIBUNTRAVEL.COM - Pagi itu cuaca Jakarta memang sedang tak bersahabat.

Rintik-rintik hujan dan awan kelabu yang bergelayutan di langit membuat Ibu Kota tampak suram dan dingin.

Gerbong kereta commuter line yang saya tumpangi hari itu juga terasa lebih dingin dari biasanya.

Bisa jadi karena udara dingin di luar, dan tak banyak orang menggunakan moda transportasi tersebut pada hari itu, karena malas keluar rumah di tengah rintik hujan.

 

Hari itu saya ingin berkunjung ke Museum Bank Mandiri, yang terletak terletak di Jalan Lapangan Stasiun, Kelurahan Pinangsia, Jakarta Barat.

Ancar-ancarnya, tepat di seberang stasiun Jakarta Kota. Karena itu juga saya memilih naik commuter line.

Agar aman dan tanpa risiko saat menyebrang jalan raya di depan stasiun yang ramai, saya keluar dari pintu yang menuju ke arah Glodok.

Jangan keluar di pintu menuju ke gedung BNI, karena di sana sedikit menyeramkan untuk meyebrang.

Selain itu, letak tempat penyeberangannya masih harus jalan lagi ke utara, menjauh dari tempat tujuan saya.

Karena itu lebih baik keluar dari pintu ke arah menuju Glodok.

Di sana terdapat pintu menuju terowongan penyeberangan, sehingga tak perlu khawatir akan kendaraan yang melintas.

Setelah menaiki beberapa anak tangga, saya tiba tepat di depan Museum Bank Mandiri.

Pagar hitam menjulang tinggi di depan pintu masuk bagunan berwarna putih tersebut.

TONTON JUGA

Begitu banyak pedagang kaki lima yang berada di dekat pagar tersebut, sampai saya mengira museum ini tutup.

Ternyata pagar museum yang dibuka sebagai akses keluarga masuk pengunjung ada di samping.

Ruangan pertama yang saya jumpai adalah lobby bergaya klasik. Kemewahan peninggalan tempo dulu sangat mendominasi di sini.

Pasti naluri mengambil gambar para penyuka foto langsung timbul di sini.

Seorang petugas pengamanan museum menghampiri dan berkata, "Kak permisi, tasnya dititip dulu yah. Mari," katanya sambil mengarahkan saya ke sebuah ruangan di samping lobby museum.

Ruangan tersebut adalah tempat penitipan barang pengunjung. Ruangannya tak begitu besar namun menarik dengan sentuhan keramik-keramik bercorak vintage.

Petugas di sana memberikan nomor barang titipan yang bisa dikalungkan. Saya masuk ke ruang koleksi hanya dengan membawa telepon seluler (ponsel) dan dompet.

Begitu memasuki ruangan koleksi, saya dibuat terpesona olehnya. Rasanya seperti melihat setting film zaman dulu yang adegannya perampokan di bank.

Diorama aktivitas perbankan di Batavia.
Diorama aktivitas perbankan di Batavia. (Warta Kota/Janlika Putri)

Di sini terdapat loket kasir yang sangat jadul (zaman dulu). Uniknya, loket tersebut kini digunakan sebagai loket tiket Museum Bank Mandiri.

"Tempel di baju ya kak, langsung masuk aja ke sana " ucap seorang gadis remaja yang menjaga loket, seraya menyerahkan selembar kertas berisi informasi sejarah museum ini.

Yang harus ditempel itu adalah tiketnya yang sekarang berbentuk stiker kecil, bukan lagi lembaran kertas.

Lift klasik

Tak banyak pengunjung pada hari itu. Bisa dimaklumi dengan kondisi Jakarta yang suram di awal tahun 2020 ini.

Sepertinya hanya ada saya dan dua remaja itu sedang asyik berfoto-foto ria di dalam lift tampilannya sangat begitu klasik.

Ukuran lift ini tak terlalu besar, dan interiornya terbuat dari kayu. Penggila benda-benda antik wajib datang ke sini dan melihatnya.

Lift ini sangatlah manarik, tombol-tombolnya bergaya lampau, lampu penerangan juga seadaanya, lalu beberapa mesin yang terlihat menjadi dekorasi yang sangat ciamik.

Lift ini sudah tak berfungsi lagi, namun keasliannya masih tetap terjaga.

"Enggak rencana, mendadak ini. Kami tadinya mau ke Museum BI, tapi kesini dulu deh lihat. Soalnya sama- sama belum pernah. Bagus sih ini dan seru banget banget buat foto-foto, tapi kita juga bisa belajar sejarah di sini, " kata Fathia, seorang mahasiswa Universitas Nasional.

Fathia tak sediri, dia datang bersama Dini, temannya.

"Karena ini pertama kali, awalnya agak seram sih. Serius. Untung kita datang berdua dan ada yg lainnya
juga. Pas sudah lihat dalamnya, bagus banget jadi enggak takut lagi" katas Dini.

Berpisah dari kedua gadis itu, saya kembali mengamati ruangan tersebut. Mulai dari lantai keramik hingga langit-langitnya sangatlah menawan.

Dulu, ruangan ini diperuntukan sebagai ruang pelayanan nasabah. Bahkan di etalase paling pojok dibuat untuk melayani nasabah Tionghoa.

Pengunjung dapat mebayangkan aktivitas yang terjadi di masa lampau dari diorama yang ditampilkan.

Petugas teller dengan pakaian Tionghoa melayani nasabah.

Masuk ke ruangan berikutnya, pengunjung akan belajar perjalanan perbankan di Indonesia.

Mulai dari sebelum masa kolonial Belanda hingga seperti saat ini.

Menabung

Sebelum Indonesia mengalami masa penjajahan Eropa, ternyata masyarakatnya sudah mengenal pentingnya menabung.

Dia sana digambarkan dengan jelas lewat celengan-celengan tanah liat dan bambu.

Ada pula gambaran mengenai bangsa ini saat mengalami masa cultuurstelsel, alias sistem taman paksa.

Di sini ada beragam perlengkapan bank kuno, mulai dari cap, buku tabungan, mesin tik, kalkulator, telepon, mesin penghitung uang, dan masih banyak lainnya yang tentu keberadaannya sudah punah di zaman sekarang.

Di ruangan ini juga ada spot foto yang sangat menarik, dengan gaya sedikit art deco, yakni susunan mesin tik dari masa ke masa yang digantung di dinding.

Biar pun gedung ini tua, namun menyajikan banyak spot foto Instagramable di dalamnya, lewat arsitektur dan interior jadulnya.

Dekorasi gaya art deco dengan memanfaatkan mesin tik tua.
Dekorasi gaya art deco dengan memanfaatkan mesin tik tua. (Warta Kota/Janlika Putri)

Dari ruangan ini pengunjung bisa melihat taman bagian dalam yang begitu luas. Namun sekarang sedang ada proyek pembangunan di sana.

Di lorong dekat taman itu saya bertemu dengan Kartum Setiawan, selaku kurator Museum Bank Mandiri.

Katanya, proyek pembangunan tersebut adalah penataan ulang dari taman sebelum.

"Itu merupakan penataan taman, dibuat lebih indah tanpa mengubah bentuk aslinya. Saat ini pengerjaanya menuju tahap finishing," katanya menjelaskan.

Adaptasi

Dari taman itu pengunjung dapat melihat kekuatan arsitektural dari bagunanan ini.

Bagian pilar yang tinggi, kusen jendela dan pintu yang juga tinggi. Semuanya tampak begitu kokoh dan terjaga.

Tinggi dan besar adalah upaya bangsa Belanda beradaptasi dengan iklim tropis di Indonesia.

Setelah melewati lorong tersebut, kemudian saya kembali ke dalam, ruangan dengan koleksi yang berbeda.

Di ruangan tersebut masih memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan aktivitas bank tempo dulu.

Grootboek, alias buku ukuran besar yang digunakan untuk menyimpan data para
nasabah.

Semuanya data nasabah ditulis rapih lho.

Mungkin karena dulu tak ada komputer sehingga data nasabah menggunakan buku.

Grootboek, atau buku besar untuk mencatat data nasabah.
Grootboek, atau buku besar untuk mencatat data nasabah. (Warta Kota/Janlika Putri)

Rubanah

Setelah puas menyusuri setiap jengkal dari ruangan ini. Pengunjung bisa menunju ke lantai bawah tanah.

Ruangannya bisa dibilang sedikit pengap dan remang-remang.

Agak ragu juga saya untuk terus ke bawah, kerena tak ada pengunjung lain yang ke sana.

Tak ada petugas yang bisa di tanya pula.

Namun saya memberanikan diri, dan tetap turun saat melihat arah panah bagi pengunjung.

Di ruang bawah bawah tanah (rubanah) ini terdapat banyak sekali peti brandkast dengan berbagai ukuran dan bentuk. 

Brandkast adalah bahasa Belanda untuk peti penyimpanan yang kuat.

Kata itu kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia, namun penulisannya disesuaikan menjadi brankas.

Koleksi brankas di sini sepintas terlihat jadul dan tak mengesankan.

Namun mata yang jeli bisa melihat karat dan kotak kaku brankas-brankas itu sangat pas untuk foto bergaya rustic dan industry.

Ukuran lantai rubanah ini begitu luas, sehingga tak hanya brandkast saja yang ada di sana.

Ada pula peti-peti uang dan juga dokumen berharga. Selain itu ada mata uang tempo dulu hingga saat ini.

Ruang Bawah Tanah Museum Bank Mandiri berisi koleksi brankas.
Ruang Bawah Tanah Museum Bank Mandiri berisi koleksi brankas. (Warta Kota/Janlika Putri)

Kaca patri

Dari lantai dasar ini saya kembali ke atas kembali. Masih ada tempat yang harus dikunjungi, yaitu lantai atas.

Pada ruangan yang dinamakan lantai 1 ada dekorasi gedung yang sangat indah, yakni kaca patri dengan desain yang membuat saya terpesona.

Untuk naik ke lantai 1, pengunjung bisa menggunakan tangga yang berada di depan loket tiket.

Gambar di kaca patri tersebut menjadi sangat berkilauan saat terkena cahaya Matahari, dan menghasilkan pantulan gambar di lantai dan dinding di seberangnya.

Kaca patri di Museum Bank Mandiri.
Kaca patri di Museum Bank Mandiri. (Warta Kota/Janlika Putri)

Di lantai 1 terdapat beberapa ruangan besar, salah satunya ialah ruangan rapat besar yang di gunakan oleh para direktur bank untuk mengambil keputusan.

Bangunan museum ini memang begitu luas, belum lagi ada beberapa ruang tersegel yang tak sembarang pengunjung boleh masuk.

"Bangunan ini sebenarnya terdiri dari empat lantai. Namun yang diperuntukan bagi pengunjung hanya tiga lantai saja. Lantai paling atas memang bukan untuk konsumsi publik" tandas Kartum.

Kartum Setiawan, kurator Museum Bank Mandiri.
Kartum Setiawan, kurator Museum Bank Mandiri. (Warta Kota/Janlika Putri)

Semakin menyusuri ruangan demi ruangan ini, saya menemukan sejarah gedung ini.

Ada tiga orang Belanda yang merancang gedung yang sangat kaya akan nilai estetika ini.

JJJ de Bruijin, AP Smith, dan C Van de Linde adalah arsiteknya.

Bangunan ini mulai dibangun pada 1929 dan diresmikan pada 14 Januari 1933.

Awalnya di gunakan sebagai cabang pertama Nederlandche Handel Maatschappiij (NHM) NV di Batavia, dengan nama de Factorij.

Berkunjung ke Museum Bank Mandiri membuat saya belajar cara perbankan tempo dulu dijalankan, dengan cara yang menyenangkan.

Ditambah detail ragam hiasnya, museum ini cocok d jadikan wisata edukasi bagi semua usia.

Museum bank mandiri :
Jl. Lapangan stasiun no.1 kota tua Jakarta barat.

Jam operasional :
Selasa- Kamis
09.00- 15.30 WIB
Jumat
09.00-11.30 WIB & 13.00-15.00 WIB
Sabtu & Minggu
09.00-18.30 WIB

Harga tiket:
Anak-anak / pelajar Rp 3.000
Dewasa Rp. 5.000
Turis anak Rp 10.000
Turis dewasa Rp. 15.000

Transportasi :
-Dekat Dengan Halte bus Transjakarta kota tua
-Dekat dengan stasiun kereta commuter line Jakarta kota

Viral di Medsos, Museum Manchester United Simpan Skripsi Mahasiswi Indonesia

7 Tempat yang Sebaiknya Dihindari untuk Selfie, Termasuk Museum hingga Tempat Ibadah

Koleksi Museum Keraton Jogja Rusak Karena Ulah Wisatawan yang Ingin Foto

Siapa Nenek Moyang Bangsa Indonesia? Cari Tahu Jawabannya di Museum Bahari

Artikel ini telah tayang di Tribunwartakotatravel.com dengan judul Di Museum Bank Mandiri, Belajar Sejarah Perbankan Jadul Sekaligus Bikin Foto Instagramable

Ikuti kami di
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved