Fakta Unik Jepang, Melihat Festival Obon untuk Menghormati Arwah Leluhur

Obon biasanya berlangsung selama empat hingga lima hari dan dianggap sebagai acara keluarga paling penting di Jepang.

Fakta Unik Jepang, Melihat Festival Obon untuk Menghormati Arwah Leluhur
Instagram/surabayasparkling
Bunga tabebuya yang bermekaran di Surabaya, serasa di Jepang. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Jika Traveler liburan ke Jepang saat musim panas, mungkin akan merasakan suasana berbeda dari biasanya.

Suasana di negeri sakura akan menjadi tenang, kereta api menjadi kosong dan pekuburan mulai bermekaran dengan bunga.

Saat itulah perayaan Obon akan mulai dilaksanakan.

Dilansir TribunTravel.com dari laman savvytokyo.com, Obon adalah festival musim panas menyambut kembalinya arwah leluhur ke dalam keluarga.

Harganya Capai Ratusan Juta, Ini 7 Alasan Buah Melon di Jepang Sangat Mahal

Seperti di Jepang, Petugas Dorong Penumpang KRL Karena Terlalu Penuh Jadi Viral di Medsos

 

(savvytokyo)

 4 Negara yang Melarang Warga Israel untuk Memasuki Kawasannya, Indonesia Masuk di Antaranya

Obon biasanya berlangsung selama empat hingga lima hari dan dianggap sebagai acara keluarga paling penting di Jepang.

Seringkali dibandingkan dengan Halloween di luar negeri, meskipun sangat berbeda dalam esensi dan praktek, itu adalah tradisi Jepang untuk menghormati nenek moyang dan orang yang dicintai yang telah meninggal dunia.

13 Agustus - Mukaebi

Obon dimulai dengan apa yang disebut praktik awalebi (menyambut api), di mana orang-orang membuat api unggun kecil di depan rumah-rumah mereka untuk membimbing roh setelah mereka kembali ke rumah.

 5 Rumah Hantu Paling Menyeramkan di Jepang, Ada yang Berbentuk Sekolah sampai Virtual Reality

Mendekorasi altar almarhum dengan memorial kecil, buah-buahan, bunga dan permen Jepang juga merupakan bagian dari tahap persiapan awal - sebuah praktik yang digunakan untuk menawarkan benda-benda yang mereka nikmati selama masa hidup mereka.

Beberapa daerah juga akan menyiapkan kuda yang terbuat dari mentimun dan sapi yang terbuat dari terong dengan tongkat kayu untuk kaki.

Simbolisme di belakangnya adalah bahwa kuda akan membantu roh pulang sesegera mungkin, sementara sapi akan membawa mereka kembali ke surga perlahan-lahan segera setelah festival berakhir.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Rizky Tyas Febriani
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved