Polisi Temukan Rekaman Terakhir 8 Pendaki yang Tewas Tersapu Longsoran Salju

Polisi di Himalaya menemukan rekaman di kamera GoPro yang menunjukkan saat-saat terakhir ekspedisi pendakian sebelum para pendaki tersapu longsoran.

Polisi Temukan Rekaman Terakhir 8 Pendaki yang Tewas Tersapu Longsoran Salju
Twitter / ITBP
Cuplikan dari GoPro ditemukan oleh Polisi Perbatasan Indo-Tibet di puncak timur gunung Nanda Devi setinggi 7.816 meter. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Polisi di Himalaya menemukan rekaman di kamera GoPro yang menunjukkan saat-saat terakhir ekspedisi pendakian sebelum para pendaki tersapu dan terbunuh oleh longsoran salju.

Polisi Perbatasan Indo-Tibet menemukan kamera di atas gunung Nanda Devi pada Minggu (7/7/2019).

Nanda Devi adalah puncak tertinggi kedua di India.

TONTON JUGA

 

7 Kecelakaan Pendaki Gunung di Indonesia Sejak 2018

Pada 26 Mei, delapan pendaki, dari Inggris, AS, Australia, dan India, tewas akibat longsoran salju di Nanda Devi.

Tujuh mayat ditemukan pada 23 Juni.

Polisi memposting rekaman GoPro ke Twitter, dan Vivek Kumar Pandey, juru bicara kepolisian mengatakan: "Tiba-tiba kami melihat suara keras. Video menjadi kosong dan berhenti."

Dilansir TribunTravel dari laman insider.com, cuplikan dari kamera GoPro yang ditemukan terkubur di salju Himalaya menunjukkan sekelompok pendaki gunung sebelum mereka terbunuh oleh longsoran salju pada bulan Mei.

Rekaman menunjukkan delapan pendaki internasional, bertali bersama, berjalan menuju puncak.

Longsoran yang membunuh mereka terjadi pada 26 Mei.

"GoPro terbukti seperti kotak hitam sebuah pesawat yang memberikan wawasan tentang beberapa saat terakhir dari para pendaki," BBC melaporkan wakil deputi jenderal polisi APS Nambadia mengatakan.

Gambar diam dari rekaman GoPro.
Gambar diam dari rekaman GoPro. (Twitter / ITBP)

6 Hal Buruk yang Sering Dilakukan Pendaki Saat Mendaki Gunung

"Memukau bagi kita untuk melihat rekamannya."

Vivek Kumar Pandey, juru bicara ITBP mengatakan: "Tiba-tiba kami melihat suara keras. Video menjadi kosong dan berhenti."

Ekspedisi terdiri dari empat warga negara Inggris, dua orang Amerika, satu Australia, dan seorang India.

Tujuh dari delapan mayat ditemukan pada 23 Juni, ditemukan sekitar 5.000 meter di atas permukaan laut.

Empat penjelajah lainnya telah melakukan perjalanan ke India bersama delapan pendaki, tetapi memilih untuk tidak mencoba dan menaklukkan Nanda Devi.

Puncak-puncak dalam barisan pegunungan sepanjang 1.500 mil adalah beberapa dari yang tertinggi dan paling berbahaya di dunia, menarik ribuan petualang yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk bisa menaklukannya.

Mayat para pendaki terlihat oleh helikopter penyelamat.

Sayng lokasinya yang terlalu rawan dan berbahaya membuat helikopter sulit mengevakuasinya.

Penyelamatan dengan berjalan kakipun dilakukan.

Tahun ini saja, lebih dari dua lusin pendaki telah tewas di puncak di India, Nepal dan Pakistan, lapor Reuters.

Musim pendakian 2019 sangat mematikan di Gunung Everest, dengan 11 orang terbunuh di gunung tertinggi di dunia tahun ini.

'Kemacetan' di  Gunung Everest
'Kemacetan' di Gunung Everest (Twitter / @ nimsdai)

7 Tips Aman Mendaki Gunung Bagi Pendaki Pemula

Kematian dilaporkan karena kemacetan di puncak tertinggi dunia tersebut.

Para korban berasal dari India, Irlandia, Austria, dan AS.

Warga negara Amerika Christopher John Kulish meninggal setelah ia mencapai puncak gunung di Nepal itu.

Kulish adalah pria berusia 62 tahun dari Boulder, Colorado yang merupakan "anggota '7 Summit Club'" begitu dia mencapai puncak Everest.

Seperti dikutip dari CNN, keluarga korban mengatakan Kullish sudah mendaki setiap puncak tertinggi di setiap benua.

Robin Fisher, seorang pendaki Inggris berusia 44 tahun pingsan dan meninggal setelah mencapai puncak gunung.

Ia meninggal setelah menunggu berjam-jam untuk mencapai puncak.

Sebelumnya Robin Fisher sudah memperingatkan kepadatan di puncak Everest.

"Dengan satu rute ke puncak, penundaan yang disebabkan oleh kepadatan yang berlebihan dapat berakibat fatal sehingga saya berharap keputusan saya untuk pergi pada tanggal 25 akan lebih sedikit pendaki," tulisnya.

Jalur pendakian gunung Everest di Nepal padat oleh pendaki
Jalur pendakian gunung Everest di Nepal padat oleh pendaki (nepal24hours.com)

Menurut The Guardian, korban lainnya bernama Kevin Hynes dari Irlandia, Ernst Landgraf dari Austria, dan Kalpana Das dan Nihal Bagwan, keduanya dari India.

Dua pendaki tambahan dari India dan satu dari Amerika Serikat juga tewas di Everest.

Pendaki Irlandia kedua diduga tewas setelah dia terpeleset dan jatuh dekat ke puncak.

Dikutip dari The New York Times, pendaki Everest yang berpengalaman mengatakan, pendaki yang terlalu padat dan tidak berpengalaman harus disalahkan.

Para pendaki berdesak-desakan untuk mengambil foto narsis dan mempertaruhkan nyawanya untuk mengantre ke puncak.

Hal tersebut patut disayangkan karena kematian bukan karena cuaca buruk, tapi 'kemacetan' di atas gunung.

Menurut catatan perizinan di Nepal, banyak pendaki tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk melakukan pendakian.

"Itu menakutkan," kata Ed Dohring, seorang dokter dari Arizona yang melakukan pendakian seperti wawancara yang dilakukan New York Times.

Ed Dohring mengklaim, dia harus menginjak-injak seorang wanita yang baru saja meninggal untuk melanjutkan perjalanannya.

Kondisi menjadi berbahaya karena orang-orang berdesakan di puncak yang sempit dan beku untuk mengambil swafoto.

Sulawesi Utara Disebut Bintang Baru Pariwisata Indonesia oleh Jokowi, Intip Pesonanya

5 Keuntungan Liburan Menggunakan Motor, Termasuk Bisa Hemat Bujet

6 Warung Nasi Liwet Enak di Solo yang Cocok Jadi Menu Sarapan

Turis Asing Ini Kecewa saat Temukan Potret Asli Pura Lempuyang di Bali

5 Tempat Wisata Malam Dekat UGM Yogyakarta yang Menarik untuk Dijelajahi

TribunTravel/Ambar Purwaningrum

Ikuti kami di
Penulis: Ambar Purwaningrum
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved