Ani Yudhoyono Meninggal Dunia

Lembah Tidar, Saksi Bisu Awal Pertemuan SBY dan Ani Yudhoyono di Kota Magelang

Di kaki gunung berketinggian 503 mdpl itulah, SBY dan Ani bertemu untuk pertama kalinya.

Lembah Tidar, Saksi Bisu Awal Pertemuan SBY dan Ani Yudhoyono di Kota Magelang
Instagram/aniyudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono setia menemani sang istri Ani Yudhoyono saat menjalani masa-masa pengobatan di National University Hospital, Singapura. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Cinta antara Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sang istri Ani Yudhoyono memang tak perlu diragukan lagi.

Cinta keduanya bahkan terpancar saat Ani menjalani masa-masa pengobatan melawan penyakit kanker darah di National University Hospital, Singapura.

Saat itu, SBY selalu setia menemani sang istri, bahkan saat Ani sedang kritis sekalipun.

Tak heran, karena kisah cinta keduanya bermula sejak puluhan tahun silam.

LIHAT JUGA VIDEO BERIKUT:

Diwartakan Kompas.com, kisah awal pertemuan keduanya pun pernah diceritakan SBY dalam buku berjudul "SBY, Sang Demokrat" terbitan Dharmapena Publishing tahun 2004.

Saat itu, SBY yang duduk di tingkat empat Akabri didapuk sebagai Komandan Divisi Korps Taruna.

Ia harus melapor kepada sang Gubernur, Sarwo Edhie Wibowo, yang tak lain adalah ayah Ani.

Keluarga Sarwo Edhi Wibowo
Keluarga Sarwo Edhie Wibowo (Instagram/aniyudhoyono)

Pada saat yang sama, Ani yang saat itu menempuh pendidikan di Jakarta sedang mengunjungi sang ayah sekaligus berlibur di Lembah Tidar.

Lembah Tidar merupakan kawasan kaki Gunung Tidar yang berada di tengah kota Magelang, Jawa Tengah.

Di kaki gunung berketinggian 503 mdpl itulah, SBY dan Ani bertemu untuk pertama kalinya.

Di tempat itu pula terdapat pusat pendidikan militer yang disebut Akademi Militer (Akmil), yang menjadi tempat SBY menempuh pendidikan sebagai taruna.

Ani Yudhoyono dan SBY saat muda
Ani Yudhoyono dan SBY saat muda (Instagram/aniyudhoyono)

Sebagai pusat pelatihan taruna sejak 11 November 1957, Gunung Tidar tak terlepas dari sejarah Akmil.

Bahkan, di paling puncak Gunung Tidar terdapat tugu besar bertuliskan 'Akademi Militer'.

Gunung Tidar dan Legenda Syaikh Subakir

Nama Gunung Tidar disebut-sebut berasal dari dua kata, yaitu mati dan modar, yang bermakna sama.

Penamaan itu bukan tanpa alasan, karena dulunya Gunung Tidar disebut angker, tak ada seorang pun yang berani mengunjungi.

Makam Kyai Semar
Makam Kyai Semar (Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia)

Namun, Syaikh Subakir yang berasal dari Persia berhasil menginjakkan kaki di Gunung Tidar dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya.

Mengutip dari Tribun Jateng, Syaikh Subakir merupakan leluhur sekaligus salah satu penyebar agama Islam di Jawa Tengah.

“Konon ia menemukan daratan Magelang ratusan tahun lalu, ia menancapkan sebuah prasasti yang sarat akan makna bagi para penerusnya yaitu masyarakat Magelang khususnya, dan masyarakat Indonesia, bahkan dunia pada umumnya,” ujar Bambang Eka Prasetya, salah satu pegiat budaya Magelang.

Tak heran jika di puncak Gunung Tidar terdapat makam Syaikh Subakir yang sering dikunjungi wisatawan.

Selain makam Syaikh Subakir, di puncak Gunung Tidar juga terdapat petilasan Kyai Semar.

Diwartakan Visit Magelang, petilasan tersebut dibuat serupa dengan makam, berbentuk bangunan besar dengan atap kerucut kuning besar dan dijaga oleh patung naga yang mengelilingi ke empat sisi.

Meski tak terlalu tinggi dibanding gunung pada umumnya, Gunung Tidar disebut sebagai 'Paku Tanah Jawa' atau 'Pakuning Tanah Jawa'.

Sebutan tersebut datang dari salah satu legenda tentang Gunung Tidar.

Petilasan Kyai Semar
Petilasan Kyai Semar (Tribun Jateng/Irzal Adiakurni)

Mengutip dari Visit Magelang, ada legenda yang mengatakan Gunung Tidar sebagai paku yang menancapkan Pulau Jawa yang melayang-layang di tanah.

Terlepas dari sejarah dan legendanya, Gunung Tidar hingga kini masih ramai dikunjungi wisatawan.

Selain berwisata religi, biasanya wisatawan sengaja mendaki Gunung Tidar untuk olah raga.

Tak heran, karena Gunung Tidar ditumbuhi begitu banyak pepohonan nan rimbun.

Trek menuju puncak Gunung Tidar
Trek menuju puncak Gunung Tidar (Instagram/ferdian_samsul)

Untuk mendaki Gunung Tidar, tak membutuhkan waktu yang lama, cukup 30 menit sudah sampai hingga ke puncak.

Wisatawan yang ingin melihat mendaki Gunung Tidar diharuskan merogoh kocek Rp 3.000 untuk tiket masuk.

(TribunTravel.com/Sinta Agustina)

Ikuti kami di
Penulis: Sinta Agustina
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved