Breaking News:

11 Orang Tewas Setelah Terjebak 'Kemacetan' di Gunung Everest

Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas di Gunung Everest minggu ini. Kematian ini dilaporkan karena kemacetan di puncak tertinggi dunia tersebut.

Twitter/@nimsdai
'Kemacetan' di Gunung Everest. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas di Gunung Everest minggu ini.

Kematian ini dilaporkan karena kemacetan di puncak tertinggi dunia tersebut.

Para korban berasal dari India, Irlandia, Austria, dan AS.

Warga negara Amerika Christopher John Kulish meninggal setelah ia mencapai puncak gunung di Nepal itu.

Kulish adalah pria berusia 62 tahun dari Boulder, Colorado yang merupakan "anggota '7 Summit Club'" begitu dia mencapai puncak Everest.

Seperti dikutip dari CNN, keluarga korban mengatakan Kullish sudah mendaki setiap puncak tertinggi di setiap benua.

Tonton juga:

Robin Fisher, seorang pendaki Inggris berusia 44 tahun pingsan dan meninggal setelah mencapai puncak gunung.

Ia meninggal setelah menunggu berjam-jam untuk mencapai puncak.

Sebelumnya Robin Fisher sudah memperingatkan kepadatan di puncak Everest.

2 dari 3 halaman

"Dengan satu rute ke puncak, penundaan yang disebabkan oleh kepadatan yang berlebihan dapat berakibat fatal sehingga saya berharap keputusan saya untuk pergi pada tanggal 25 akan lebih sedikit pendaki," tulisnya.

Menurut The Guardian, korban baru lainnya bernama Kevin Hynes dari Irlandia, Ernst Landgraf dari Austria, dan Kalpana Das dan Nihal Bagwan, keduanya dari India.

Orang yang Selamat dari Kemacetan di Gunung Everest Minta Aturan Pendakian Diperketat

Pendaki Ceritakan Kondisi Mencekam Kemacetan di Gunung Everest: Tak Ada Pilihan Selain Melanjutkan

Dua pendaki tambahan dari India dan satu dari Amerika Serikat juga tewas di Everest dalam sepekan terakhir.

Pendaki Irlandia kedua diduga tewas setelah dia terpeleset dan jatuh dekat ke puncak.

Minggu ini disebut musim pendakian paling mematikan dalam sejarah Gunung Everest.

Dikutip dari The New York Times, pendaki Everest yang berpengalaman mengatakan, pendaki yang terlalu padat dan tidak berpengalaman harus disalahkan.

Para pendaki berdesak-desakan untuk mengambil foto narsis dan mempertaruhkan nyawanya untuk mengantre ke puncak.

Hal tersebut patut disayangkan karena kematian bukan karena cuaca buruk, tapi 'kemacetan' di atas gunung.

Menurut catatan perizinan di Nepal, banyak pendaki tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk melakukan pendakian.

"Itu menakutkan," kata Ed Dohring, seorang dokter dari Arizona yang melakukan pendakian seperti wawancara yang dilakukan New York Times.

3 dari 3 halaman

Ed Dohring mengklaim, dia harus menginjak-injak seorang wanita yang baru saja meninggal untuk melanjutkan perjalanannya.

Kondisi menjadi berbahaya karena orang-orang berdesakan di puncak yang sempit dan beku untuk mengambil swafoto.

(TribunTravel.com/Arif Setyabudi)

Selanjutnya
Sumber: Tribun Travel
Tags:
Gunung EverestIrlandiaNepal U2 (Band) Mark Sheehan Yeti Airlines Tallaght Stadium Matt Doherty
BeritaTerkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved