Breaking News:

Keberadaan Bangunan Penginapan di Pantai Glagah Ancam Keselamatan Bandara NYIA

Di pesisir pantai selatan NYIA itu, khususnya di kawasan Pantai Glagah memang terdapat belasan bangunan fasilitas penginapan dengan ratusan unit kamar

Dok AP 1
Progres pembangunan terminal internasional NYIA hingga awal Februari 2019. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Keberadaan sejumlah bangunan penginapan di selatan lokasi New Yogyakarta International Airport (NYIA), Kecamatan Temon, dinilai bisa menjadi potensi ancaman bagi keselamatan operasi penerbangan di bandara baru tersebut.

Pasalnya, tidak ada pengawasan khusus terhadap profil tamu yang datang menginap.

Di pesisir pantai selatan NYIA itu, khususnya di kawasan Pantai Glagah memang terdapat belasan bangunan fasilitas penginapan dengan ratusan unit kamar.

Lokasinya berada di barat laguna wisata Pantai Glagah dan hanya berjarak sekitar seratusan meter sebelah selatan dari landasan pacu (runway) NYIA, terpisahkan oleh pagar teralis besi.

Penginapan-penginapan itu selama ini banyak digunakan oleh wisatawan dari sekitar Yogyakarta maupun luar daerah.

Project Manager Pembangunan NYIA PT Angkasa Pura I, Taochid Purnama Hadi mengatakan, pihaknya sudah membuat mitigasi terhadap potensi bencana dan ancaman terhadap keselamatan operais penerbangan di NYIA.

Di antaranya mencakup mitigasi mengantisipasi gempa bumi dan tsunami yang antara lain mencakup penanganan di area pesisir pantai selatan NYIA sepanjang Pantai Glagah hingga Pantai Congot.

Area tersebut harus disterilkan dari aktivitas penduduk dan dibenahi menjadi kawasan green belt alias sabuk hijau sebagai fasilitas penunjang bandara dalam mitigasi bencana.

Sabuk hijau diharapkan bisa melindungi NYIA dari potensi ancaman bencana tsunami sekaligus mencegah abrasi di bibir pantai.

Apalagi, letak landasan pacu terhitung sangat dekat dengan area pantai.

Jika di area itu terdapat aktivitas penduduk, seperti adanya usaha penginapan dan lalu lalang pengguna jasanya, dikhawatirkan ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkannya untuk membawa ancaman terhadap keselamatan pengguna jasa penerbangan di NYIA.

"Sebisa mungkin area dekat runway tidak ada penginapan karena rawan dalam kontrol atas siapa yang menghuni. Dikhawatirkan ada ancaman tertentu. Kalau di situ ada penduduk, percuma juga mitigasi kita (yang sudah dibuat)," kata Taochid, Minggu (17/3/2019).

Untuk diketahui, lahan di selatan NYIA berstatus Paku Alam Ground (PAG) milik Kadipaten Pakualaman.

Adapun warga yang menggunakan lahan tersebut untuk aktivitas pertanian maupun usaha biasanya mengusung konsep sewa tanah.

Saat ini, di lahan PAG selatan NYIA terdapat berbagai jenis usaha dari tambak udang, penginapan, warung, hingga usaha wisata.

Dengan kondisi saat ini, Taochid berharap penanganan dan penataan kawasan selatan NYIA itu bisa dilakukan bersama dengan pemerintah daerah dan juga pemilik lahan.

Pihaknya memohon ke pemda dan pemilik lahan untuk sama-sama menyiapkan green belt sebagai mitigasi bencana, termasuk penanaman pohon cemara udang untuk menghijaukan area green belt.

AP I dalam hal ini menyadari bahwa areal itu berada di luar penguasaannya sehingga bantuan dari pemerintah dan pemilik lahan akan sangat berarti.

Menurutnya, beberapa waktu lalu pemilik lahan sudah melakukan pemantauan di lokasi tersebut dan diharapkan bisa segera ada gambaran atas upaya pengelolaannya.

Pihaknya siap membantu jika dibutuhkan, termasuk bila dibutuhkan alat berat untuk penataan lahan tersebut.

"Kalau Pemda dan pemilik lahan minta bantuan, kita pasti bantu lah. Kita harus sama-sama, tidak bisa AP I sendiri yang action karena itu bukan milik kita. Tidak mungkin tiba-tiba kami bawa backhoe ke sana,"jelas Taochid.

Ia juga mengapresiasi adanya konsep penataan kawasan Pantai Glagah yang sudah disusun oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo.

Konsep tersebut menurutnya memiliki rancangan penataan yang bagus dan mematuhi prinsip untuk Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) dari NYIA dengan tidak adanya bangunan tinggi yang akan dibangun.

"Pakai konsep itu sebetulnya lebih baik, tidak ada masalah dengan KKOP,"kata Taochid.

Pemkab Kulon Progo melalui Dinas Pariwisata saat ini memang sudah menyelesaikan penyusunan Detailed engineering Design (DED) penataan kawasan Pantai Glagah menjadi destinasi wisata air dan kuliner baru berkelas internasional.

Area yang jadi fokus pengembangan sesuai rencana penataan itu antara lain area sekitar laguna dan sisi timur kawasan pantai seluas sekitar 56,9 hektare yang saat ini juga menjadi titik utama keramaian wisatawan.

Sedangkan lahan di sisi barat, dari Glagah hingga Congot seluas sekitar 78,5 hektare akan digunakan sebagai green barrier/green belt bagi NYIA dengan menjadi kawasan hutan cemara udang.

Rencana penataan itu sempat memunculkan sikap protes dari para pelaku usaha di kawasan tersebut yakni para petambak, pemilik penginapan, dan warung-warung.

Mereka khawatir tergusur dan kehilangan sumber nafkahnya serta menuding pemerintah tak pernah mengkomunikasikan rencana tersebut.

Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo mengatakan rencana penataan itu saat ini sifatnya masih berupa konsep berbentuk Detailed engineering Design (DED) dan proyeknya dimungkinkan baru mulai berjalan di 2020 atau setelahnya.

Sosialisasi akan dilakukan sebelum proses penataan itu dimulai.

Namun, ia menegaskan bahwa bangunan penginapan serta areal tambak di selatan NYIA itu tetap harus digusur karena ilegal, terutama karena menyalahi tata ruang mengingat lokasinya ada di lahan yang bukan peruntukannya.

Ia mengaku sudah mendatangi warga yang memiliki bangunan atau aktivitas usaha di kawasan Pantai Glagah dan warga sudah menyanggupi untuk pindah jika sewaktu-waktu lahan tersebut akan dipakai oleh pemerintah.

Apalagi, lahan tersebut juga harus disterikan untuk jadi bagian dari mitigasi bencana serta mendukung operasional NYIA sebagai areal sabuk hijau.

"Mereka punya keinginan untuk didengarkan dan harus dicarikan solusinya. Namun, mitigasi bencana juga tetap diperlukan,"kata Hasto.

Ketua Paguyuban Penginapan Pantai Glagah, Bento Sarino mengatakan saat ini ada sekitar 18 bangunan penginapan yang berdiri dengan sekitar 200 unit kamar.

Ia menilai usaha penginapan itu menjadi pendukung pariwisata di Pantai Glagah sebagai akomodasi bagi wiusatawan luar daerah untuk menginap.

Bahkan, sebagian kamar inap itu kini juga difungsikan sebagai kamar kos bagi para pekerja di proyek pembangunan NYIA.

Ia mempertanyakan sikap pemerintah jika penginapan itu bakal digusur.

"Penginapan kan ada kaitannya dengan wisata. Kalau tidak ada penginapan, apa (wisatawan) yang dari jauh mau menginap di tempat parkir? Kan enggak," kata Bento.

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Penginapan di Pantai Glagah Ancam Keselamatan Bandara NYIA, //jogja.tribunnews.com/2019/03/18/penginapan-di-pantai-glagah-ancam-keselamatan-bandara-nyia?page=all.
Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti

Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved