Empat Masjid Indah Ini jadi Finalis Abdullatif Al Fozan Award, 2 di Antaranya Karya Ridwan Kamil

Empat masjid dari Indonesia masuk dan bersaing dalam nominasi penghargaan Abdullatif Al Fozan Award.

Empat Masjid Indah Ini jadi Finalis Abdullatif Al Fozan Award, 2 di Antaranya Karya Ridwan Kamil
IST/Binus.ac.id
Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan karya Ridwan Kamil 

TRIBUNTRAVEL.COM - Empat masjid dari Indonesia masuk dan bersaing dalam nominasi penghargaan Abdullatif Al Fozan Award.

Ajang penghargaan ini menampilkan desain dan karya masjid yang sangat indah dari negara-negara berpenduduk muslim.

Rancangan rumah ibadah Indonesia itu akan bersaing dengan 27 desain masjid dari seluruh dunia.

Keempat masjid yang menjadi finalis Abdullatif Al Fozan Award tersebut yakni:

1. Masjid Al Irsyad

Pembangunan masjid ini dimulai sejak 7 September 2009 di Kota Baru Parahyangan, lalu selesai dikerjakan dan diresmikan setahun kemudian, yaitu 27 Agustus 2010.

Masjid Al Irsyad di Kota Baru Parahyangan
Masjid Al Irsyad di Kota Baru Parahyangan

Bentuk utama masjid berkapasitas 1.000 orang ini dirancang mirip dengan kubus yang dianggap lebih efisien.

Ide awal dalam merancang masjid ini adalah membingkai alam sebagai latar belakang mihrab atau tempat imam.

Arah kiblat Masjid Al Irsyad diciptakan dengan konsep terbuka langsung menghadap ke pemandangan alam. Sementara di sekeliling masjid terdapat banyak ventilasi terbuka sebagai alur masuk keluarnya udara.

Sebelumnya, desain masjid ini pernah terpilih sebagai salah satu dari lima bangunan Building of The Year 2010 dari National Frame Building Association dan Arch Daily Religious Building of the Year 2010.

Selain itu, ada pula penghargaan FuturArc Green Leadership Award 2011 dari Building Construction Information (BCI) Asia yang menyebut masjid tersebut sebagai bangunan berkonsep ramah lingkungan.

  • Principal Architect : M Ridwan Kamil 
  • Project Director: Reza A Nurtjahja 
  • Design Team: Ade Yudirianto, Fahry Aditya, Asep Budiman 
  • Structure Engineer : Sonny Nasrullah

2. Masjid Al Safar

Masjid Al Safar berada di rest area ruas Jalan Tol Purbaleunyi KM 88 B arah Jakarta.

Masjid Al Safar
Masjid Al Safar ()

Fasilitas ibadah ini menjadi yang terbesar se-Indonesia yang dibangun di rest area. Dengan luas area mencapai 6.000 meter persegi, Masjid Al Safar berkapasitas hingga 1.200 jamaah.

Selain itu, fasilitas ibadah ini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti toilet, tempat wudhu, taman dan kolam.

Sama seperti bentuk Masjid Al Iryad, tempat ibadah ini juga dirancang tanpa kubah. Keunikan bangunan ini terdapat pada bentuknya yang asimetris. Bahkan banyak yang menyebut, desain bangunan ini mirip ikat kepala masyarakat Sunda.

"Kenapa bentuknya miring-miring, sebetulnya karena berada di dalam tol yang monoton gitu lurus saja. Nah kami ingin meletakkan si masjid ke arah depan dengan diagonal-diagonalnya sehingga mereduksi sedikit bentuk jalan tol," ujar Reza.

Selain itu, dalam rancangannya, tim Urbane juga memanfaatkan pemandangan perbukitan di sekitar bangunan.

  • Principal Architect : M Ridwan Kamil 
  • Principal in Charge : Reza A Nurtjahja 
  • Senior Project Architect : Ade Yudirianto 
  • Urban Design Team : Ismail Reza, Adhitya D Kurniadilaga 
  • Structure Engineer: Philip Danny Tjandra 
  • MEP Engineer: Firman Hanafi

3. Masjid Raya Sumatera Barat

Desain masjid ini merupakan karya arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain Masjid Raya Sumatera Barat.

"Desain gambar kerjanya dikerjakan oleh konsultan lain, karena itu proyek pemerintah jadi langsung dari Pemda Sumbar-nya," ungkap Reza.

"Tim hanya diminta untuk meneruskan sebagai design advisor. Jadi gambar detailnya bukan oleh Urbane," lanjut Reza.

Untuk desain atap masjid, Reza menuturkan, bentuknya bukan semata-mata menduplikasi model atap bangunan lokal.

Keunikan sebenarnya terdapat pada konsep cerita di belakangnya. Model atap ini terinspirasi dari peristiwa peletakan batu Hajar Aswad oleh Nabi Muhammad, yang menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu.

Ketika itu, empat kabilah suku Quraisy berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke tempatnya semula.

Nabi Muhammad kemudian membentangkan selembar kain dan meletakkan batu tersebut, sehingga dapat diusung bersama oleh setiap perwakilan dengan memegang masing-masing setiap sudut kain.

"Jadi bentuknya seperti kain terus dibentangkan. Cerita filosofinya seperti itu, yang berarti ada keadilan dan tidak ada yang menang sendiri," ungkap Reza.

  • Principal Architect : Rizal Muslimin 
  • Design team: M Yuliansyah Akbar, Mulyana Diwangsa 
  • DED Consultant: Penta Architecture 
  • Design Advisor: Rizal Muslimin

4. Masjid Agung Jawa Tengah

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara Jawa, Timur Tengah, dan Yunani. Langgam Timur Tengah terlihat dari kubah dan keempat minaretnya.

Sementara gaya Jawa terlihat dari bentuk tanjungan di bawah kubah utama. Sedangkan pilar-pilar besar di dalam kompleks bangunan mengadopsi gaya Yunani.

Gerbang koloseum khas Eropa mengelilingi bagian depan masjid seolah menyambut wisatawan yang datang dengan kaligrafi bertuliskan surat Al-Mukmin 1-5.

Sedangkan jika dilihat dari sisi dalam gerbang, yang tertulis merupakan asmaul husna dan surah Al-Fatihah sebagai pembuka.

Di dalam gerbang yang melingkar itu, berdiri tegak ikon masjid ini yang identik dengan Masjid Nabawi di Madinah, yaitu enam payung raksasa lengkap dengan pelataran masjid yang luas.

Rumah ibadah ini dirancang oleh Ahmad Fanani dari PT Atelier Enam Jakarta.

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Empat Masjid Indah Ini jadi Finalis Abdullatif Al Fozan Award, Termasuk 2 Karya Ridwan Kamil, //jogja.tribunnews.com/2019/02/14/empat-masjid-indah-ini-jadi-finalis-abdullatif-al-fozan-award-termasuk-2-karya-ridwan-kamil?page=all.

Editor: iwanoganapriansyah

Ikuti kami di
Editor: Rizky Tyas Febriani
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved