3 Situs Megalitikum di Indonesia yang Bisa Disambangi Pencinta Arkeologi dan Sejarah

Traveler yang suka belajar sejarah dan arkeologi tentu bakal suka mengunjungi situs-situs megalitikum di Indonesia.

KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT - KRISTIANTO PURNOMO
Situs megalit Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, 30 Mei 2014. Tim Riset Mandiri Gunung Padang mengungkapkan bahwa situs dibangun oleh empat kebudayaan berbeda, yang tertua diperkirakan mencapai umur 10.000 tahun. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Traveler yang suka belajar sejarah dan arkeologi tentu bakal suka mengunjungi situs-situs yang terkait dengan budaya dan peradaban zaman dahulu.

Satu di antaranya adalah situs megalitikum.

Situs megalitikum adalah situs di mana kebudayaan megalitikum berpusat.

Indonesia mengalami zaman megalitikum atau zaman batu besar pada tahun 2500 hingga 1500 SM.

Saat itu, kepercayaan yang berkembang merupakan dinamisme dan animisme.

Sehingga manusia zaman dahulu memuja benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

Mereka juga percaya, roh-roh nenek moyang sudah tiada akan tinggal di tempat-tempat tertentu.

Oleh karenanya, manusia zaman dahulu pun mendirikan struktur besar yang biasanya dibuat dari batu utuh dan dipahat menjadi bentuk atau ukuran tertentu.

Beberapa peninggalan zaman megalitikum biasanya berupa menhir (tugu batu), dolmen (meja batu), sarkofagus (semacam peti), kubur batu, hingga punden berundak.

Indonesia memiliki sejumlah situs megalitikum yang bisa dikunjungi.

Apa sajakah itu?

Dikutip TribunTravel.com dari berbagai sumber, berikut deretannya.

1. Situs Pasemah

Situs Pasemah
Situs Pasemah (Eddy Hasby via //jemepadangguci.blogspot.com)

Situs Pasemah terletak di kawasan Dataran Tinggi Pasemah, Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Selatan.

Sejumlah ahli arkeologi Belanda sudah berupaya memecahkan misteri Situs Megalitikum Pasemah.

Seperti EP Tombrink (1827), Ulmann (1850), LC Westernenk (1921), Th van der Hoop (1932) dan lainnya

Di Situs Megalitikum Pasemah, terdapat dua batu yang mencolok.

Yakni, batu berbentuk manusia dengan tubuh tambun membungkuk dan kepalanya menghadap ke depan dan agak menengadah.

Batu lainnya berbentuk gajah.

Selain itu, ada pula arca batu besar, alat-alat batu, tembikar, bilik batu, dan menhir.

Situs Megalitikum Pasemah kerap dikaitkan dengan kisah legenda Si Pahit Lidah.

2. Situs Gunung Padang

Terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Situs Gunung Padang merupakan satu situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara.

Diperkirakan, luas Situs Gunung Padang memiliki tinggi dan luas melebihi Candi Borobudur serta lebih tua daripada Piramida Giza.

Situs Gunung Padang pertama kali ditemukan pada 1914 oleh penjajah Belanda.

Konon, masyarakat setempat percaya Situs Megalitikum Gunung Padang merupakan satu di antara tahta milik Prabu Siliwangi yang memerintah Kerajaan Pajajaran.

Meski sudah dimakan usia, bebatuan di Situs Gunung Padang seolah ditata rapi dan kerap dijuluki Macchu Picchu-nya Indonesia.

3. Situs Megalitikum Kampung Bena, Nusa Tenggara Timur

Kampung Bena merupakan daerah permukiman yang sudah ada sejak zaman megalitikum dan masih bertahan hingga kini.

Tradisi dan budaya yang telah ada sejak 1.200 ahun yang lalu pun masih dipraktikkan masyarakat setempat.

Ada 9 klan penduduk yang tinggal di Kampung Bena.

Yakni, Dizi, Dizi Azi, Wahtu, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa dan Ago.

Setiap klan hidup pada tingkat yang berbeda dari desa berteras, dengan klan Bena di tengahnya.

Klan Bena dianggap sebagai yang tertua dan pendiri kampung.

Rumah-rumah tradisional penduduk berjumlah 40 unit dan kesemuanya berjajar mengelilingi sebuah struktur dari batu.

Kampung Bena terletak di Kabupaten Benawa, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur dan dikelilingi Gunung Inerie.

(TribunTravel.com/Rizki A. Tiara)

Ikuti kami di
Penulis: Rizkianingtyas Tiarasari
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved