Liburan ke Klaten

Bersenang-senang di Umbul Pluneng Klaten, Tawarkan Kejernihan dan Segarnya Mata Air Alami

Liburan ke Klaten, yuk mampir ke Umbul Pluneng yang berada di Kecamatan Kebonarum. Umbul ini begitu jernih dan memiliki kualitas air yang sangat baik.

Bersenang-senang di Umbul Pluneng Klaten, Tawarkan Kejernihan dan Segarnya Mata Air Alami
TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI
Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunTravel.com, Sri Juliati

TRIBUNTRAVEL.COM - Bicara soal wisata di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tak akan pernah jauh dari wisata umbul alias kolam pemandian yang bersumber mata air.

Faktanya, memang demikian.

Daerah yang berada di antara Surakarta dan Yogyakarta ini menyimpan potensi wisata tirta yang begitu banyak dan tersebar di beberapa kecamatan.

Satu yang paling dikenal awam adalah Umbul Ponggok, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten.

Irfan Hakim Liburan ke Umbul Ponggok Klaten, Arie Untung: Di Kampung Gue, nih

Namun, ada satu lagi umbul yang tak kalah moncer di kalangan warga Klaten dan kini mulai naik daun di media sosial.

Adalah Umbul Pluneng, yang berada di Dukuh Miren, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten.

Pemandangan Umbul Puneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten dengan latar belakang Gunung Merapi.
Pemandangan Umbul Puneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten dengan latar belakang Gunung Merapi. (INSTAGRAM/@umbul_pluneng)

Mudik ke Klaten, Siap-siap Basah Saat Snorkeling dan Foto Underwater di 5 Destinasi Air Ini

Umbul Pluneng menjadi destinasi wisata mata air masyarakat yang tinggal di bagian selatan dan barat wilayah Klaten.

Sebut saja Klaten Selatan, Prambanan, Karangnongko, Manisrenggo, Gantiwarno, hingga tak sedikit yang datang dari luar Kabupaten Klaten.

Untung, seorang terapis di Umbul Pluneng mengatakan, pada hari biasa, pengunjung yang datang ke Umbul Pluneng mencapai 300-an orang per hari.

Sementara pada akhir pekan, jumlah ini bisa meningkat tiga kali lipat.

"Kalau akhir pekan, seperti sekarang ini, pengunjung bisa sampai 1.000-an," kata Untung saat ditemui TribunTravel.com, Minggu (28/10/2018).

Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018).
Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018). (TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI)

6 Lokasi di Indonesia yang siap Hilangkan Stres dan Jenuhmu Saat Weekend Tiba, Satunya di Klaten

Untung menjelaskan, keberadaan Umbul Pluneng sebagai mata air alami sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih terpelihara hingga kini.

Namun bila dibandingkan dengan zaman dulu, tentu saja kondisi sekarang sudah sangat jauh berbeda.

Hal ini terlihat dari bangunan yang mengelilingi kawasan Umbul Pluneng sekaligus jadi pemisah antara umbul dengan kompleks persawahan.

"Tahun 1970-an, mulai dibangun dinding pembatas antara umbul dengan sawah di sekitarnya," ujar dia.

Sebenarnya, Umbul Pluneng terbagi menjadi dua bagian, yaitu Umbul Tirto Mulyono (Umbul Lanang/Lelaki, red) dan Umbul Tirto Mulyani (Umbul Wedok/Perempuan, red).

Kedua umbul ini berjarak sekitar 100 meter dan hanya dipisahkan oleh jalan desa.

Sesuai sebutannya, dulu, Umbul Tirto Mulyono yang berukuran lebih besar diperuntukkan bagi pengunjung lelaki yang ingin mandi atau sekadar menyegarkan diri.

Sementara Umbul Tirto Mulyani untuk pengunjung perempuan.

Umbul Tirto Mulyani yang dulu digunakan untuk pengunjung perempuan
Umbul Tirto Mulyani yang dulu digunakan untuk pengunjung perempuan (INSTAGRAM/@umbul_pluneng)

5 Benda Terkutuk dengan Harga Termahal di Dunia, di Antaranya Lukisan yang Dicat dengan Darah

"Namun sekarang sama saja, siapa saja boleh masuk. Bedanya, ukuran kolam Umbul Mulyani lebih kecil dan tidak terlalu dalam," ujar dia.

Apalagi kini di Umbul Tirto Mulyono sudah dibangun tiga kolam dengan luas dan kedalaman yang berbeda-beda.

Kolam utama di Umbul Tirto Mulyono berukuran 50x10,5 meter dengan kedalaman 2 meter.

Juga terdapat kolam anak-anak dengan kedalaman 75 cm dan ukuran 6x8,5 meter.

"Kalau di Umbul Tirto Mulyani, kedalamannya 120 cm dan panjangnya 20x15 meter," kata Untung.

Asal-usul nama Pluneng pun bisa dibilang unik.

Pluneng berasal dari singkatan Plung (nyemplung) yaitu masuk dalam air dan Neng (seneng) yang berarti senang, bahagia.

Bila dipadankan menjadi nyemplung seneng yang bermakna siapa saja yang mandi di umbul ini akan senang dan bahagia.

Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018).
Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018). (TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI)

6 Oleh-oleh Khas yang Wajib Dibeli Saat Traveling ke Flores, Ada Madu Hutan sampai Kopi Bajawa

Untung mengungkapkan, sejak dulu, Umbul Pluneng sudah jadi tujuan wisata air.

Namun, baru pada 2015, jumlah pengunjung Umbul Pluneng mengalami peningkatan yang signifikan.

Untung tak menyangkal, semakin ramainya wisatawan yang menyambangi Umbul Pluneng lantaran pengaruh media sosial.

Baik warga sekitar maupun pengunjung ramai-ramai membagikan potret keindahan, keasrian, dan jernihnya Umbul Pluneng di media sosial, terutama di Facebook dan Instagram.

Tak hanya sebagai wahana refreshing atau hiburan, Untung berpromosi, Umbul Pluneng juga sangat cocok untuk latihan renang.

"Umbul Pluneng sering jadi tempat latihan atlet renang, baik sekadar menjaga kebugaran maupun persiapan untuk kejuaraan," ujar Untung.

Termasuk latihan bagi para tentara yang akan menjalani ujian kenaikan pangkat.

Yang lebih istimewanya lagi, Umbul Pluneng juga menjadi tempat untuk terapi penyembuhan berbagai penyakit.

Sebut saja stroke, jantung, diabetes, saraf kejepit, diabetes, pegal-pegal, dan penyakit lainnya.

"Oleh karenanya, cuma di sini, kolam pemandian yang memiliki jasa terapis seperti saya. Ya, untuk membantu, mendampingi pengunjung yang ingin terapi di Umbul Pluneng," lanjut Untung.

Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018).
Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018). (TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI)

Mengenal Lebih Dekat Ehomaki, Makanan Pembawa Keberuntungan Asal Jepang

Kelebihan lain yang dimiliki Umbul Pluneng adalah kualitas air yang sangat baik, jernih, serta menyegarkan karena bersumber mata air alami dan terus mengalir.

Air di Umbul Pluneng juga memiliki kadar pH 7 dan TDS 100 sehingga masuk kategori air sehat bahkan layak minum tanpa dimasak sekali pun.

Fasilitas penunjang wisata di Umbul Pluneng pun tergolong lengkap.

Warung makan, musala, toilet, kamar ganti yang representatif, tempat penitipan barang atau loker, serta area parkir yang luas.

Fasilitas lainnya adalah penyewaan ban atau pelampung bagi pengunjung yang tidak bisa berenang.

Tambahan pula ada tim SAR di sini yang akan mengawasi serta penolong pertama bila terjadi kecelakaan pada pengunjung.

Fasilitas lain yang hanya ada di Umbul Pluneng adalah tempat untuk membuang ludah yang berada di sekeliling kolam.

Tempat untuk membuang ludah yang berada di sekeliling kolam Umbul Pluneng.
Tempat untuk membuang ludah yang berada di sekeliling kolam Umbul Pluneng. (TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI)

5 Warteg 24 Jam Murah di Jakarta, Warteg Kharisma Batari Punya 196 Cabang

"Untuk menjaga kemurnian dan kejernihan air, kami melarang pengunjung meludah di area kolam, sehingga kami sediakan tempat tersendiri, semacam selokan untuk membuang ludah dengan air mengalir," kata Untung.

Di Umbul Pluneng juga terdapat spot menarik bagi pengunjung yang ingin berfoto, yaitu dinding bergambar yang mengelilingi area kolam.

Spot selfie di kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten.
Spot selfie di kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten. (INSTAGRAM/@umbul_pluneng)

Airnya Jernih bak Kaca Tembus Pandang, Inilah Wisata Lain di Klaten Selain Umbul Ponggok

Harga tiket masuk (HTM) Umbul Pluneng tergolong cukup terjangkau, yaitu Rp 5 ribu serta tarif parkir motor Rp 2 ribu dan mobil Rp 5 ribu.

Umbul Pluneng buka setiap hari mulai pukul 04.00 hingga 18.00 WIB.

Waktu terbaik untuk datang ke Umbul Pluneng adalah pagi hari atau sore setelah pukul 15.00 WIB lantaran dapat merasakan langsung segarnya air.

Tambahan pula, belum banyak pengunjung sehingga rasanya seperti menikmati kolam pribadi.

Tradisi di Umbul Pluneng

Tradisi Syukuran Banyu yang digelar setiap pekan terakhir pada bulan Muharram alias Suro di Umbul Pluneng
Tradisi Syukuran Banyu yang digelar setiap pekan terakhir pada bulan Muharram alias Suro di Umbul Pluneng (INSTAGRAM/@umbul_pluneng)

Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Tur Halal dengan Wisata Muslim

Selain mengandalkan potensi wisata air Umbul Pluneng, Desa Pluneng juga menggelar atraksi budaya demi menarik wisawatan.

Satu di antaranya adalah tradisi Syukuran Banyu yang digelar setiap pekan terakhir pada bulan Muharram alias Suro.

Tradisi yang digelar sejak beberapa tahun lalu ini merupakan wujud syukur warga pada Sang Pencipta karena telah dilimpahi air yang tak pernah surut.

"Acara ini sekaligus usaha kami mewariskan budaya pentingnya merawat mata air," kata Untung.

Untung bercerita, Syukuran Banyu diisi dengan berbagai kegiatan yaitu kirab budaya, ritual Ngunduh Banyu, doa syukur, dan Kembul Bujono alias makan bersama beralas daun pisang.

Syukuran Banyu juga melibatkan warga Pluneng dan sekitarnya untuk mengisi acara atau sekadar meramaikan.

Atraksi lain yang digelar di Desa Pluneng adalah kesenian tradisional ciblon yang bertujuan melestarikan musik tradisional dengan media air.

Warga Desa Umbul Pluneng memainkan kesenian tradisional ciblon yang bertujuan melestarikan musik tradisional dengan media air pada acara Syukuran Banyu.
Warga Desa Umbul Pluneng memainkan kesenian tradisional ciblon yang bertujuan melestarikan musik tradisional dengan media air pada acara Syukuran Banyu. (INSTAGRAM/@umbul_pluneng)

5 Tempat Wisata Terpopuler di Bandung, Menikmati Keunikan Pasar Terapung di Floating Market

Untung bercerita, sekelompok wanita akan masuk ke kolam, lantas menepuk-nepuk air sehingga menghasilkan bunyi atau irama tertentu dan biasanya berupa lagu tradisional.

Kesenian tradisional ini sudah turun-temurun dan diwariskan oleh warga Desa Pluneng hingga masih lestari hingga kini.

"Bahkan di Pluneng juga ada Sanggar Tirta Wening yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa."

"Sanggar ini rutin berlatih dan menggelar pertunjukan di Umbul Pluneng, bahkan beberapa kali diundang ke daerah lain untuk tampil," beber Untung.

Dikelola BUMDes Tirta Sejahtera

Sejak awal tahun lalu, Umbul Pluneng resmi dikelola warga Desa Pluneng yang bernaung di bawah BUMDes Tirta Sejahtera.

Seorang karyawan Tirta Sejahtera, Tri Wiyanto menjelaskan, dulu Umbul Pluneng merupakan satu aset desa yang dikelola masyarakat dengan mekanisme pelelangan.

"Dulu, Umbul Pluneng dilelang siapa yang ingin mengelola dalam jangka waktu tertentu. Begitu masa pengelolaan sudah habis, dilelang lagi, begitu seterusnya," kata pria yang sehari-hari menjaga pintu masuk Umbul Pluneng.

Sayangnya, dari mekanisme lelang dan pengelolaan pribadi tersebut tak jua membawa perubahan serta kemajuan pada Umbul Pluneng.

Ditambah saat itu, pengelolaan wisata lewat BUMDes juga tengah bergeliat, bisa membantu perekonomian warga, serta mendongkrak pendapatan asli desa (PAD).

Satu yang menjadi contoh adalah keberhasilan pengelolaan Umbul Ponggok oleh BUMDes Tirta Mandiri.

"Sebelum membentuk BUMDes, kami juga sempat studi banding ke BUMDes Tirta Mandiri, belajar tentang pengelolaan dan lainnya," kata Tri.

Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018).
Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018). (TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI)

Event Jakarta November 2018 - Buat Pecinta Makanan Manis Wajib Banget Mampir ke Sini

Alhasil, pada Januari 2018, Umbul Pluneng resmi dikelola BUMDes yang kini beranggotakan 22 karyawan di lapangan dan lima staf kantor ini.

Sejak saat itu, pengelolaan Umbul Pluneng lebih tertata.

Sebut saja untuk penataan parkir pengunjung, kebersihan, perawatan, hingga keamanan dan keselamatan pengunjung.

Hasil dari pengelolaan ini juga dapat dirasakan warga secara langsung.

"Dengan adanya BUMDes juga sangat mengangkat perekonomian warga sekaligus bisa mengurangi tingkat pengangguran," kata Tri yang sebelumnya bekerja di bagian proyek pabrik minuman.

Selain mengelola Umbul Pluneng, BUMDes Tirta Mandiri juga mengelola usaha di bidang penyediaan air bersih, pemancingan, bank sampah, pengadaan barang, hingga kerajinan.

Rencananya, pada tahun depan, BUMDes Tirta Mandiri akan mengembangkan Umbul Pluneng menjadi waterpark dan melengkapi wahana untuk anak-anak.

Pengunjung memadati kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten.
Pengunjung berada di kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten. (INSTAGRAM/@hansptra.hm)

Daftar Bakso Enak di Jabodetabek: Ada Bakso Lava hingga Bakso Tulang Iga, Tertarik Mencoba?

Keberadaan Umbul Pluneng juga menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar.

Tak sedikit yang warga yang membuka usaha seperti warung makan, penyewaan ban, aksesori renang, dan lainnya.

Satu di antaranya Hanayati Martiana Sita, yang membuka warung makan dan penyewaan ban di depan Umbul Pluneng.

Beberapa tahun lalu, ia merasakan betul sepinya pengunjung Umbul Pluneng saat belum dikelola secara maksimal.

Bahkan, ia membuka warung makanan pada hari-hari tertentu yaitu akhir pekan.

Kini sejak Umbul Pluneng kian ramai, Sita begitu wanita 29 tahun ini karib disapa, berani membuka usahanya setiap hari.

"Kalau dari keuntungan ya, Alhamdulillah, meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding tahun-tahun lalu," kata dia.

Papan peringatan di kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018).
Papan peringatan di kawasan pemandian Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (28/10/2018). (TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI)

Bangunan Terindah di Dunia Ini Punya Desain Super Unik dan Spot Instagramable Abis, Minat ke Sini?

Lain halnya dengan seorang pengunjung, Brian Persianggono yang merasakan betul perubahan wisata air Umbul Pluneng.

Warga Prambanan tersebut menyebut, kondisi Umbul Pluneng sekarang sangat jauh berbeda dengan zaman dulu.

Satu yang ia rasakan betul adalah fasilitas penunjang wisata dan kebersihan kolam pemandian ini.

"Dulu, belum ada ruang ganti. Terus dulu boleh keramas dan mandi pakai sabun di kolam, sekarang kan nggak boleh."

"Itu bagus sih, biar airnya tetap bisa jernih, segar, dan bersih," kata dia.

Tak hanya itu, aliran air Umbul Pluneng yang mengalir di selokan depan rumah dimanfaatkan sebagai lokasi untuk budidaya ikan koi.

Pelopornya adalah Yohanes Joko Sutjipto, seorang pensiunan pegawai bank.

Budidaya ikan koi milik Joko ini pun menuai banyak pujian, satu di antaranya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo serta menjadi percontohan dan mulai ditiru lokasi lain di Kabupaten Klaten. (*)

Ikuti kami di
Penulis: sri juliati
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved